Senin, 17 Oktober 2011

PILKADA BANTEN 2011

Seorang mukmin adalah seseorang yang memiliki komitmen yang kuat dan berpegang teguh hanya kepada apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, baik dalam sabda atau amalan beliau. Apa saja yang dia lakukan tidak pernah lepas dari petunjuk Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu… (QS. Al Hjurat : 15).
Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya… (QS. An-Nuur : 62).
Seorang mukmin adalah orang yang selalu membangun keimanan, karena hanya amalan yang berlandaskan iman yang shahihlah yang bermanfaat baginya. Sebanyak dan sebaik apapun amal ibadah seseorang, ketika tidak berlandaskan iman, tidak ada manfaat dan guna sama sekali. Hakikat orang yang banyak amal baiknya namun dia bukan seorang mukmin adalah seorang yang merugi selama-lamanya.
…barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS. Al Maidah : 5).
Seorang mukmin anti memilah-milah antara amal duniawi dan amal ukhrawi. Karena dia tahu bahwa sikap demikian itu bersumber dari ajaran kristen. Disebut dengan prinsip skularisasi. Semua amal yang baik adalah bagian dari kehidupan ini dan menjadi ibadah. Dinilai dan dihargai dalam Islam. Prinsip yang dia adopsi adalah penuh perhatian kepada urusan akhirat dengan tidak melupakan bagiannya di dunia.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…. (QS. Al Qashash : 77).
Seorang mukmin benar-benar memiliki totalitas hidup yang lillah (hanya karena, demi dan untuk Allah). Dia pahami dan dalami doa iftitah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam shalat beliau, yang merupakan salah satu di antara dua belas doa iftitah beliau yang dinyatakan shahih oleh para ulama, yang menunjukkan keteladanan beliau dalam totalitas hidup yang hanya difokuskan kepada Allah. Kadang-kadang beliau shallallahu alaihi wa sallam berdoa iftitah di dalam shalatnya yang artinya sebagai berikut :
"Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi dengan lurus, dalam keadaan muslim dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya demi Allah Rabb alam semesta. Tiada sekutu bagiNya dan untuk yang demikian itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang mula-mula sebagai seorang muslim". (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan lain-lain).
Seorang mukmin hatinya sangat tertarik dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala karena isinya berkenaan dengan perkara pemimpin. Sebagaimana firmanNya dalam surah An-Nisa : 59 yang artinya :
Hai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu….
Setiap mukmin wajib mentaati semua perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala termasuk ayat di atas. Mengamalkan isi ayat di atas adalah ibadah dan mengabaikan pengamalannya adalah kemaksiatan kepadaNya. Ketaatan dalam Islam, yang paling penting adalah kepada Allah, RasulNya dan ulul amri. Taat kepada ulul amri adalah perintah Allah dan perintah RasulNya. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda, "Barangsiapa taat kepadaku maka dia telah taat kepada Allah dan barangsiapa maksiat kepadaku maka dia telah maksiat kepada Allah. Dan barangsiapa taat kepada gubernurku maka dia telah taat kepadaku dan barangsiapa maksiat kepada gubernurku maka dia telah maksiat kepadaku".
"Gubernurku" adalah wakil atau perpanjangan tangan beliau shallallahu alaihi wa sallam. Dia adalah seorang ulul amri. Lantas siapakah ulul amri itu?
Dalam tafsir Ath-Thabari disebutkan bahwa ulul amri adalah "umara". Dalam tafsir Al Qurthubi ulul amri adalah "pemimpin atau komandan perang". Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa ulul amri adalah "umara yang ulama". Tafsir Fi Dzilalil Qur'an ditulis bahwa ulul amri adalah "pemimpin dari kalangan kaum mukmin". Sedangkan di dalam tafsir Al Jalain ulul amri adalah Al Wulat (para pemimpin).
Dengan demikian maka ulul amri disepakati oleh para ahli tafsir adalah "pemimpin" dengan kriterea yang sudah demikian jelas. Layak berfungsi sebagai wakil Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga dia harus seorang alim Islam (Ibnu Katsir) dan dan baik iman dan Islamnya (Fi Dzilalil Qur'an). Siap dan terampil serta cekatan menjalankan fungsi sebagai komandan perang (Al Qurthubi).
Mentaati dan menghormati seorang pemimpin adalah ibadah wajib, jika memang layak diperlakukan baik sedemikian itu. Maka memilih pemimpin adalah pengamalan ibadah, dan golput adalah sebaliknya. Dengan kata lain maksiat kepada Allah dan dosa besar. Salah pilih dalam memilih pemimpin adalah perkara yang dimaafkan, tetapi memilih pemimpin dengan cara licik, adalah kedustaan di hadapan Allah dan dusta yang mencelakan diri sendiri. Mari kita simak sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut :
Dari Abu Hurairah RA dengan derajat marfu' beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Akan memimpin kalian sepeninggalku para pemimpin yang bajik dengan kebajikannya dan para pemimpin pendosa dengan gelimang dosanya. Maka dengar dan patuhi mereka dalam hal-hal yang sejalan dengan kebenaran dan shalat-makmumlah di belakang mereka. Jika mereka berbuat baik maka kalian dan mereka beruntung. Sedangkan jika mereka jahat maka kalian beruntung dan mereka celaka". Ditakhrij oleh Ad-Daruquthni dan Ibnu Hibban dari jalur sanad Abdullah bin Muhammad bin Yahya bin Urwah dari Hisyam bin Urwah dari Abu Shalih As-Saman dari Abu Hurairah RA.
Pemimpin jahat akan rugi sedangkan orang-orang yang memilihnya dengan serius tetap beruntung karena dia telah melakukan pemilihan seorang pemimpin.
Seorang mukmin sangat besar perhatiannya kepada firman Allah dalam surah Al Baqarah 247 bahwa seorang pemimpin yang baik sama sekali tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dia miliki, akan tetapi justeru Allah menyatakan bahwa ilmu yang luas dan keperkasaan fisiklah yang menjadi syarat seorang pemimpin yang baik.
Memilih pemimpin adalah perkara ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Suatu amalan yang sangat serius dalam Islam. Maka wanti-wanti, memilih pemimpin tidak boleh serampangan, karena mentaatinya adalah wajib secara mutlak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
Dengar dan taatilah dia (pemimpin) sekalipun dia seorang budak asal Habasyah (berkulit hitam) dengan semua anggota tubuh buntung.
Taat kepada pemimpin, selama perintah dan larangannya tidak bertentangan dengan Islam, adalah ketaatan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Taat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (QS. An-Nisa : 80).
Anda seorang mukmin ? jika memilih pemimpin haram golput dan haram dengan cara sembarangan. Pilih seorang pemimpin sesuai ketentuan-ketentuan Islam seperti di atas. Jangan ikuti siapapun, seorang kyaipun, jika dia menganjurkan atau mengajak agar anda memilih pemimpin dengan dasar nafsu (iming-iming uang, baju kaos, baju koko, rumah, mobil dan lain-lain) atau mengintimidasi anda karena anda memilih pemimpin sebisa mungkin sesuai dengan Islam. Jangan gadaikan keimanan dengan keduniaan. Wallahu a'lam bish shawab.

*****

Kamis, 29 September 2011

KONSEP KHUTBAH JUM'AT

QOLBUN SALIM UNTUK MASUK SURGA ALLAH

* وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأُولَى (الضحى : 4) ،
Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu daripada sekarang (dunia).

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (الأعلى : 16-17)،
Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

* الجامع الصغير وزيادته - (1 / 551)
عن النعمان بن بشير .
5504 - ....ألا وإن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا و هى القلب .
قال الشيخ الألباني : ( صحيح ) .

* وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لإِبْرَاهِيمَ ، إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ . (الصافات : 83-84) .
Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.

وَلاَ تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ، يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ ، إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ . (الشعراء : 87-89)
Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang suci .

* تفسير : تيسير العلي القدير لاختصار تفسير ابن كثير - (1 / 1843)
وقوله : { وَلاَ تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ } أي أجرني من الخزي (kehinaan) يوم القيامة ، يومَ يبعث الخلائق أولُهم وآخرُهم .

وقوله : { يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ } أي لا يقى المرءَ من عذاب الله مالُه ولو افتدى بملء الأرض ذهباً { وَلاَ بَنُونَ } أي ولو افتدى بمن على الأرض جميعاً ولا ينفع يومئذٍ إلاّ الإيمان بالله ، وإخلاص الدين له . ولهذا قال : { إِلاَّ مَنْ أَتَى الله بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} أي سالم من الدنس والشرك ، قال ابن سيرين : القلب السليم (1-A ) أن يعلم أن الله أحق ، (1-B) وأن الساعة آتية لا ريب فيها ، (1-C) وأن الله يبعث من في القبور ، (2) وقال ابن عباس : القلب السليم أن يشهد أن لا إله إلاّ لله ، (3) وقال مجاهد والحسن : { بِقَلْبٍ سَلِيمٍ } يعنى من الشرك ، (4) وقال سعيد بن المسيب : القلب السليم هو القلب الصحيح ، وهو قلب المؤمن لأن قلب الكافر والمنافق مريض ، قال الله تعالى : { فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ } [ البقرة : 10 ] (5) قال أبو عثمان النيسابوري : هو القلب السالم من البدعة ، المطمئن إلى السنّة .

*****

Selasa, 27 September 2011

FIQIH MUSYAWARAH DAN SYURA

1) فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (آل عمران : 159) .
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
[246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

*) تيسير العلي القدير لاختصار تفسير ابن كثير - (1 / 414)
ولهذا قال تعالى : { فاعف عَنْهُمْ واستغفر لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمر } . ولذلك كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يشاور أصحابه في الأمر إذا حدث ، تطييباً لقلوبهم ، ليكون أنشط لهم فيما يفعلونه ،
كما شاورهم يوم بدر في الذهاب إلى العير ، فقالوا : يا رسول الله لو استعرضت بنا عرض البحر لقطعناه معك ، ولو سرت بنا إلى برك الغماد لسرنا معك ، ولا نقول لك كما قال قوم موسى لموسى : اذهب أنت وربك فقاتلا إنا هاهنا قاعدون ، ولكن نقول : اذهب فنحن معك وبين يديك وعن يمينك وعن شمالك مقاتلون .
وشاورهم أيضاً أين يكون المنزل ، حتى أشار المنذر بن عمرو بالتقدم أمام القوم ، وشاورهم في أُحُد فى أن يقعد في المدينة أو يخرج إلى العدوّ ، فأشار جمهورهم بالخروج إليهم ، فخرج إليهم ،
وشاورهم يوم الخندق في مصالحة الأحزاب بثلث ثمار المدينة عامئذ فأبى ذلك عليه السعدان ، سعد ابن معذ وسعد بن عبادة ، فترك ذلك ، وشاورهم يوم الحديبية في أن يميل على ذراري المشركين ، فقال له الصديق : إنا لمن نجيء لقتال أحد وإنما جئنا معتمرين ، فأجابه إلى ما قال ، فكان صلى الله عليه وسلم يشاورهم في الحروب ونحوها .
وروينا عن ابن عباس في قوله تعالى : { وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمر } قال : نزلت في أبي بكر وعمر ، وكانا حواري رسول الله صلى الله عليه وسلم ووزيريه وأبوي المسلمين ، وقد روى الإمام أحمد عن عبد الرحمن بن غنم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لأبي بكر وعمر : « لو اجتمعتما في مشورة ما خالفتكما » .
وروى ابن مردويه ، عن علي بن أبي طالب قال : سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن العزم؟ فقال : « مشاورة أهل الرأي ثم اتباعهم » ، وقد قال ابن ماجة عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « المستشار مؤتمن » .
وقوله تعالى : { فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله } ، أي إذا شاورتهم في الأمر وعزمت عليه فتوكل على الله فيه .

*) تفسير القرطبي - (4 / 249)
قال ابن عطية: والشورى من قواعد الشريعة وعزائم الأحكام، من لا يستشير أهل العلم والدين فعزله واجب. هذا ما لا خلاف فيه. وقد مدح الله المؤمنين بقوله:" وَأَمْرُهُمْ شُورى بَيْنَهُمْ" [الشورى: 38] . قال أعرابي: ما غبنت (خسر ؟) قط حتى يغبن قومي، قيل: وكيف ذلك؟ قال لا أفعل شيئا حتى أشاورهم. وقال ابن خويز منداد: واجب على الولاة مشاورة العلماء فيما لا يعلمون، وفيما أشكل عليهم من أمور الدين، ووجوه الجيش فيما يتعلق بالحرب، ووجوه والناس فيما يتعلق بالمصالح، ووجوه الكتاب والوزراء والعمال فيما يتعلق بمصالح البلاد وعمارتها. وكان يقال: ما ندم من استشار . وكان يقال: من أعجب برأيه ضل. الثالثة- قوله تعالى: (وَشاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ) يدل على جواز الاجتهاد في الأمور والأخذ بالظنون مع إمكان الوحي، فإن الله أذن لرسوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في ذلك. واختلف أهل التأويل في المعنى الذي أمر الله نبيه عليه السلام أن يشاور فيه أصحابه، فقالت طائفة: ذلك في مكايد الحروب، وعند لقاء العدو، وتطييبا لنفوسهم، ورفعا لأقدارهم، وتألفا على دينهم، وإن كان الله تعالى قد أغناه عن رأيهم بوحيه. روي هذا عن قتادة والربيع وابن إسحاق والشافعي. قال الشافعي: هو كقوله (والبكر تستأمر) تطيبا لقلبها، لا أنه واجب. وقال مقاتل وقتادة والربيع: كانت سادات العرب إذا لم يشاوروا في الامر شق عليهم: فأمر الله تعالى، نبيه عليه السلام أن يشاورهم في الامر: فإن ذلك أعطف لهم عليه وأذهب لاضغانهم، وأطيب لنفوسهم. فإذا شاورهم عرفوا إكرامه لهم. وقال آخرون: ذلك فيما لم يأته فيه وحي. روي ذلك عن الحسن البصري والضحاك قالا: ما أمر الله تعالى نبيه بالمشاورة لحاجة منه إلى رأيهم، وإنما أراد أن يعلمهم ما في المشاورة من الفضل، ولتقتدى به أمته من بعده. وفي قراءة ابن عباس:" وشاورهم في بعض الامر" . في أبيات . والشورى بركة. وقال عليه السلام: (ما ندم من استشار ولا خاب من استخار). وروى سهل بن سعد الساعدي عن رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (ما شقي قط عبد بمشورة وما سعد باستغناء رأي). وقال بعضهم: شاور من جرب الأمور، فإنه يعطيك من رأيه ما وقع عليه غاليا وأنت تأخذه مجانا. وقد جعل عمر بن الخطاب رضي الله عنه الخلافة- وهي أعظم النوازل- شورى. قال البخاري: وكانت الأئمة بعد النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يستشيرون الأمناء من أهل العلم في الأمور المباحة ليأخذوا بأسهلها. وقال سفيان الثوري: ليكن أهل مشورتك أهل التقوى والأمانة، ومن يخشى الله تعالى. وقال الحسن: والله ما تشاور قوم بينهم إلا هداهم لأفضل ما يحضر بهم. وروي عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (ما من قوم كانت لهم مشورة فحضر معهم من اسمه أحمد أو محمد فأدخلوه في مشورتهم إلا خير لهم). السادسة- والشورى مبنية على اختلاف الآراء، والمستشير ينظر في ذلك الخلاف، وينظر أقربها قولا إلى الكتاب والسنة إن أمكنه، فإذا أرشده الله تعالى إلى ما شاء منه عزم عليه وأنفذه متوكلا عليه، إذ هذه غاية الاجتهاد المطلوب، وبهذا أمر الله تعالى نبيه في هذه الآية. السابعة- قوله تعالى: (فَإِذا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ) قال قتادة: أمر الله تعالى نبيه عليه السلام إذا عزم على أمر أن يمضي فيه ويتوكل على الله، لا على مشاورتهم. والعزم هو الامر المروي المنقح، وليس ركوب الرأي دون روية عزما، إلا على مقطع المشيحين من فتاك العرب .



2) وَمَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ . وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ . وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ (الشورى : 36-39) .
36. …… dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. 37. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. 38. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. 39. Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.

صحيح البخاري - (22 / 357)
بَاب قَوْلِ اللهِ تَعَالَى : { وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ } { وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ }
وَأَنَّ الْمُشَاوَرَةَ قَبْلَ الْعَزْمِ وَالتَّبَيُّنِ لِقَوْلِهِ : { فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ } فَإِذَا عَزَمَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لِبَشَرٍ التَّقَدُّمُ عَلَى اللهِ وَرَسُولِهِ . وَشَاوَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ يَوْمَ أُحُدٍ فِي الْمُقَامِ وَالْخُرُوجِ فَرَأَوْا لَهُ الْخُرُوجَ . فَلَمَّا لَبِسَ لَأْمَتَهُ وَعَزَمَ قَالُوا أَقِمْ فَلَمْ يَمِلْ إِلَيْهِمْ بَعْدَ الْعَزْمِ وَقَالَ : لاَ يَنْبَغِي لِنَبِيٍّ يَلْبَسُ لَأْمَتَهُ (أدوات الحرب من الدرع وأنواع السلاح) فَيَضَعُهَا حَتَّى يَحْكُمَ اللهُ .

فقه السيرة - (1 / 250)
( صحيح )
ما ينبغي لنبي لبس لأمته أن يضعها حتى يحكم الله بينه وبين عدوه .

KESIMPULAN-KESIMPULAN :
1. Segala sesuatu, menurut Islam harus dimusyawarahkan.
2. Terdapat nilai penting (ibadah) dan strategis (sangat bermanfaat) dalam musyawarah.
3. Muhammad SAW adalah suri-tauladan dalam hal musyawarah.
4. Muhammad SAW penerima wahyu, tapi menjalankan musyawarah untuk menunjukkan pentingnya musyawarah itu kepada umatnya sepeninggalnya.
5. Azam setelah musyawarah, bukan meragukan atau mengacak-acaknya.
6. Tawakkal kepada Allah SWT ketika berazam.
7. Jika qiadah sudah azam dan tawakkal, tidak boleh yang lain menghalangi atau merintanginya atau meragukannya dan mengacaknya.
8. Mengacak hasil musyawarah secara sepihak, tindakan kontra dengan syari'at Islam dan tentunya dosa jika dengan sengaja dan dengan ilmu.
9. Tidak ada "hak veto" dalam Islam dari pihak manapun juga. Hal itu diteladankan oleh Muhammad SAW.
10. Fiqih musyawarah harus dipahami secara utuh dan sempurna.

*****

Kamis, 15 September 2011

JAWABAN PERTANYAAN BU AYU FATAH

1. Daftar haji dengan uang hasil meminjam bagaimana hukum hajinya ? Hukum hajinya shah asal orang yang berhaji tersebut dalam kategori "mampu" menunaikan haji. Jika biayanya dari pinjaman, asal tidak ada masalah dalam pengembalian, dan hanya masalah waktu saja, misalnya deadline daftar haji yang sudah dekat lalu uang cash untuk melunasi ONH belum ada, dan akan ada beberapa hari lagi, maka yang demikian tidak masalah dengan hajinya. Jika memaksakan hutang karena memaksakan diri untuk menunaikan ibadah haji dan tidak jelas bagaimana pengembalian hutangnya itu, maka yang demikian tidak masuk kategori "mampu".
2. Hukum haji ketika orang tua masih min sekalipun telah dinafkahi. Nafkah kepada orang tua yang sudah udzur adalah wajib atas anaknya. Jika masih belum mampu mencukupi kebutuhan dasar orang tua yang sudah udzur yang wajib atas anaknya, maka jika anaknya mengutamakan ibadah haji adalah tidak benar karena harus mengutamakan orang tua yang sudah udzur dengan segala kekurangan akan kebutuhan dasarnya. Jazakillah semoga bermanfaat.

Rabu, 24 Agustus 2011

KHUTBAH IDUL FITRI 1432 H (SERI MEMILIH PEMIMPIN)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر / الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر / الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر / لا إله إلا الله والله أكبر / الله أكبر ولله الحمد .
إِنَّ اْلحَمْدَ ِللهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ . وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شرَيِْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) (آل عمران:102)
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً) (الأحزاب:70- 71)
أَلاَ وَإِنَّ أَصْدَقَ اْلكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ تَعَالىَ وَخَيْرَ اْلهُدَي هُدَي مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فيِ النَارِ ، أما بعد :
Kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat ied rahimakumullah.
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah untuk meraih ridha-Nya di dunia dan di akhirat. Hanya dengan taqwa kepada Allah, ridha-Nya dapat dicapai. Di antaranya adalah dengan mendawamkan berbagai macam ibadah yang telah kita biasakan selama bulan Ramadhan kemarin ini. Yang wujudnya adalah amal-amal shalih, yaitu : Puasa sunnah, shalat tahajjud/qiyamullail, shalat witir, berinfaq, tilawah Al Qur'an, dzikir, thalabul ilmi (menuntut ilmu agama), berbicara santun, dan lain-lainnya.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد .
Kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat ied rahimakumullah.
Marilah kita tingkatkan kwalitas dan kwantitas amal shalih kita. Kunci amal shalih adalah, jika seseorang ilmunya shahih, maka amalnya pasti shalih, sebaliknya jika seseorang tidak memiliki ilmu sama sekali atau ilmunya salah maka amalnya tidak mungkin shalih, tetapi thalih.
Syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji tidak akan menjadi shalih, melainkan jika ilmu yang berkenaan dengan semua itu shahih. Semua ibadah di atas menjadi rusak/batal dan sia-sia ketika diamalkan bukan dengan dasar ilmu yang shahih. Sikap kepada orang tua, saudara, guru, kawan, lawan dan setan, tidak akan menjadi shalih melainkan ilmu berkenaan dengan semua itu shahih.
Pokoknya, semua ibadah dan amalan seseorang tidak akan menjadi shalih dan diterima oleh Allah SWT, melainkan jika dijalankan dengan dasar ilmu yang shahih. Ilmu yang shahih adalah ilmu yang bersumber kepada Al Qur'an, As-Sunnah dan sirah Salaf shalih melalui syarah-syarahnya dari para ulama yang mu'tabar dalam dunia Islam Sunni. Tidak akan diterima ibadah atau amal seseorang yang dasar pengamalannya karena ikut-ikutan, rasa malu kepada orang lain, tanpa dasar ilmu, asal selesai, tanpa unsur dzikir, pikir, khusyu', tawadhu' dan ikhlas. Ibadah yang demikian ditolak, dan amal yang demikian tidak bisa menjadi ibadah dan juga ditolak dan sia-sia.
Kedudukan ilmu dalam Islam sangat menentukan besar kecilnya pahala dan diterima atau ditolaknya ibadah atau amal. Sehingga ibadah thalabul ilmi adalah ibadah paling besar dalam Islam, melebihi besarnya ibadah syahadat, shalat, zakat, puasa, haji, berkeluarga, mencari nafkah dan lain sebagainya, karena semuanya tergantung kepada ilmu. Bahkan matipun harus dengan ilmu yang shahih dan na'udzu billah jika mati dengan ilmu yang salah. Demikian juga mengurus dan mensikapi orang mati, apalagi orang hidup. Semuanya mutlak harus dengan ilmu yang shahih agar apapun yang kita amalkan layak menjadi ibadah dan diterima di sisi Allah SWT serta tidak sia-sia belaka.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد .
Kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat ied rahimakumullah.
Berkenaan dengan ilmu yang shahih, kita tidak boleh lupa bahwa memilih pemimpin yang beberapa bulan lagi akan kita lakukan adalah termasuk amal yang ada ilmu shahihnya, baik dari Al Qur'an maupun dari Al Hadits. Sehingga memilih pemimpin adalah amal ibadah yang berkaitan dengan pahala dan dosa kepada Allah SWT. Dalam hal ini Allah telah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِى الأَمْرِ مِنْكُمْ .... (النساء : 59)
Hai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu…..
Untuk menjelaskan kata ulul amri, khatib coba jelajah kitab mukhtashar tafsir Ibnu Katsir. Di dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menukil sejumlah pendapat para sahabat Rasulullah SAW berkenaan dengan ulul amri. Ibnu Abbas RA misalnya, menyatakan bahwa ulul amri adalah seorang ahli fiqih dan ahli agama. Mujahid dan Atha' menyatakan bahwa ulul amri adalah ulama. Lalu Ibnu Katsir sendiri menyatakan bahwa ulul amri itu umum, yang mencakup ulama dan umara. Dan pastilah seorang yang alim dan amir (pemimpin yang alim) adalah yang bersifat rabbani (Al Maidah : 63), ahludz dzikr (An-Nahl : 43) dan memerintahkan ketaatan kepada Allah SWT.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد .
Kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat ied rahimakumullah.
Seorang pemimpin memiliki posisi yang sangat strategis. Apalagi jika dia seorang pemimpin suatu wilayah atau negara. Dia adalah seorang koordinator pengelolaan berbagai potensi dan sumber daya untuk meraih cita-cita bersama, kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jika demikian maka seorang pemimpin haruslah seorang yang benar-benar paham cita-cita bersama itu, bukan paham keinginan hawa-nafsunya sendiri, keluarga dan kroninya saja. Pemimpin harus orang yang kuat fisik dan akalnya. Pemimpin harus orang yang luas pengetahuan dan jaringannya. Pemimpin harus orang yang ilmunya shahih sehingga semua amalnya dalam memimpin dan bertindak shalih.
Allah SWT menegaskan ketika orang-orang Yahudi meminta seorang pemimpin kepada nabi mereka dan Allah SWT menjadikan Thalut/Dawud sebagai pemimpin mereka :
قَالَ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ .... (البقرة : 247)
Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa……".
Pemimpin yang dekat dengan ridha Allah SWT adalah seorang pemimpin yang telah Allah SWT lengkapi dengan keluasan ilmu dan kekuatan fisik. Khatib tegaskan bahwa ilmu Allah SWT adalah ilmu yang shahih, sehingga pemimpin pilihan Allah SWT adalah seorang pemimpin yang amal-amalnya senantiasa shalih karena ilmunya shahih. Tidak berani khianat, tidak mungkin melakukan kecurangan, tidak bisa aniaya kepada rakyat, langsung atau tidak langsung, tidak juga aniaya kepada dirinya sendiri. Pemimpin yang dekat dengan ridha Allah adalah pemimpin yang dengan ketangguhan fisiknya, dia siap memimpin peperangan sekalipun. Tidak pengecut dan tidak ciut. Mahir menunggang kuda dan mengayunkan senjata. Tajam menatap masa depan yang lebih baik. Tidak gentar membela semua yang wajib ia bela. Tidak loyo memperjuangkan cita-cita bersama. Selalu siap menjadi koordinator dalam berbagai kegiatan demi kemajuan bersama. Tidak menghabiskan waktu untuk 'membangun jiwanya dan badannya' hanya demi kepentingan dirinya sendiri, dan bukan untuk kemajuan bersama. Selalu penuh taggungjawab mengenai apa saja yang ia lakukan.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد .
Kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat ied rahimakumullah.
Pasti, seorang pemimpin harus tangguh dan teguh dalam memeluk agamanya sehingga tahu 'jimat' apa yang ia mempankan ketika menghadapi godaan setan. Pemimpin harus paham bahasa setan yang langsung menyeruak di dalam hati dan langsung dipahami, sekalipun bahasa setan itu tidak pernah ada namanya. Karena setan ngomong langsung di dalam hati seseorang dan orang tersebut langsung paham apa yang setan maksud. Godaan setan itu sangat strategis, karena penggoda (setan), orang yang digoda (seorang pemimpin misalnya) dan proses bujuk-rayu setan tidak pernah diketahui oleh orang lain. Sehingga pemimpin sangat rentan dan sangat mudah tergiur mengikuti apa maunya setan, karena apa yang dibisikkan oleh setan adalah demi kepuasannya sendiri dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Ingat, baik dia itu setan dari jenis manusia maupun setan dari jenis jin (شياطين الإنس والجن) (Al An'am : 112).
Ketika seorang pemimpin sudah demikian, maka sesungguhnya dia mulai kehilangan kendali dirinya. Agama sudah dianggap hanya pemantas belaka. Baginya agama tidak penting dan cenderung membatasi gerak bebas dirinya. Akhirnya, benar-benar kehilangan agama sebagai pengendalinya. Dan semua tindakannya adalah tindakan-tindakan yang thalih dan sama sekali tidak shalih.
Padahal seorang pemimpin adalah gubernur (amir) Rasulullah SAW. Beliau bersabda dalam sebuah hadits yang disepakati keshahihannya :
عن أبي هريرة رضى الله عنه ، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : من أطاعنى فقد أطاع الله ، ومن عصانى فقد عصا الله ، ومن أطاع أميرى فقد أطاعنى ومن عصا أميرى فقد عصانى .
Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, "Barangsiapa taat kepadaku maka dia telah taat kepada Allah dan barangsiapa maksiat kepadaku maka dia telah maksiat kepada Allah. Dan barangsiapa taat kepada gubernurku maka dia telah taat kepadaku dan barangsiapa maksiat kepada gubernurku maka dia telah maksiat kepadaku".
Pemimpin adalah orang yang wajib ditaati selama perintah dan larangannya sejalan dengan Islam. Kalau seorang pemimpin lemah agamanya, maka perintah dan larangannya tidak mungkin ia kontrol apakah sesuai dengan Islam atau tidak. Lantas apa dasar kebijakannya bila demikian? Hawa nafsu. Jika demikian maka Rasulullah SAW telah berpesan kepada umatnya :
صحيح وضعيف الجامع الصغير - (28 / 49)
13477 - لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق .
تخريج السيوطي : عن عمران والحكم بن عمرو الغفارى .
تحقيق الألباني : ( صحيح ) .
Mutlak tidak boleh ada ketaatan kepada sesama makhluk dalam perintah maksiat kepada Sang Khaliq (Pencipta).
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد .
Kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat ied rahimakumullah.
Jika pilihan rakyat adalah pemimpin yang buruk, tidak sesuai dengan kreterea yang diberikan oleh Allah SWT, maka tidak lama lagi rakyat terpaksa harus menyadari bahwa mereka hanya dibodohi dengan sejumlah uang, iming-iming dan janji-janji yang tidak kalah menariknya dengan janji-janji setan kepada manusia. Mereka sesungguhnya diajak untuk membinasakan wilayah yang ada di bawah kepemimpinannya dengan semua isinya. Mereka diajak mengorbankan rakyat dan semua potensi negara atau daerahnya. Dan ironinya, semua itu hanya demi kepentingan pemimpin tersebut. Mereka telah dibawa kepada kesengsaraan dunia dan penderitaan kekal abadi yang sangat berat di akhirat. Rasulullah SAW telah bersabda yang harus selalu dicamkan isinya :
عن أبي هريرة مرفوعا : سَيَلِيْكُمْ بَعْدِى وُلاَةٌ فَيَلِيْكُمُ الْبَرُّ بِبِرِّهِ وَالْفَاجِرُ بِفُجُوْرِهِ ، فَاسْمَعُوْا لَهُمْ وَأَطِيْعُوْا فِيْمَا وَافَقَ الْحَقَّ ، وَصَلُّوْا وَرَاءَهُمْ ، فَإِنْ أَحْسَنُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ ، وَإِنْ أَسَاؤُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ . أخرجه الدارقطني وابن حبان من طريق عبد الله ابن محمد بن يحيى بن عروة عن هشام بن عروة عن أبى صالح السمان عنه .
Dari Abu Hurairah RA dengan derajat marfu' beliau bersabda, "Akan memimpin kalian sepeninggalku para pemimpin yang bajik dengan kebajikannya dan para pemimpin pendosa dengan gelimang dosanya. Maka dengar dan patuhi mereka dalam hal-hal yang sejalan dengan kebenaran dan shalat-makmumlah di belakang mereka. Jika mereka berbuat baik maka kalian dan mereka untung. Sedangkan jika mereka jahat maka kalian untung dan mereka celaka". Ditakhrij oleh Ad-Daruquthni dan Ibnu Hibban dari jalur sanad Abdullah bin Muhammad bin Yahya bin Urwah dari Hisyam bin Urwah dari Abu Shalih As-Saman dari Abu Hurairah RA.
Pemimpin adalah koordinator semua upaya dengan semua potensi dan sumber daya dalam meraih cita-cita bersama. Pemimpin adalah pilihan rakyat, maka rakyat harus cerdas memilihnya. Pemimpin adalah imam dalam shalat, maka harus memenuhi syarat-syarat seorang imam dalam shalat. Pemimpin harus ditaati, maka bagaimana jika dia banyak memerintahkan atau menuntut hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Pemimpin adalah panglima perang, maka harus kuat fisik, pemberani, alim dan teguh dalam beragama.
Pemimpin pilihan Allah SWT tidak musti orang yang banyak hartanya. Mengukur kelayakan dan kelaikan seseorang menjadi pemimpin hanya dari aspek harta saja adalah bani Israil yang salah dalam memilih pemimpin dan akhirnya dimurkai oleh Allah SWT (Al Baqarah : 247).
Sekali lagi, memilih seorang pemimpin adalah ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT. Perihal pemimpin dan kepemimpinan banyak difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al Qur'an dan disabdakan oleh Rasulullah SAW di dalam Hadits. Oleh sebab itu harus diamalkan dengan dasar ilmunya yang shahih agar amal memilih pemimpin itu dan hasilnya shalih untuk semuanya.
بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم ، ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم ، وتقبل منى ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم ، وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْراَهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعلَىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْد ٌمَجِيْدٌ ، وَارْضَ اَللَّهُمَّ عَنِ الصَحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الدِيْنِ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَك َأَعْدَاءَ الدِيْنِ .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ .
اللهم اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل فى قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم .
اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ .
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وتلاوتنا وَزَكَاتَنَا وَعِبَادَاتِنَا كُلَّهاَ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ . وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ .
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا .
رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قَنَا عَذاَبَ النَارِ .
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ .
والحمد لله رب العالمين .

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته .

REFERENSI :
1. Al Qur'anul Karim.
2. Mukhtashoru Tafsiri Ibni Katsir di dalam Al Maktabatussyamilah.
3. Kitab-kitab hadits tahqiq Syaikh Nashiruddin Al Albani di dalam Al Maktabatussyamilah.
4. Kitab "Al Ahkamus Sulthaniah", karya : Al Mawardi.

*****

Minggu, 21 Agustus 2011

BUKTI BUKTI ZAKAT MEMBAWA KESEHATAN LAHIR DAN BATIN

BUKTI : 1
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا..... (التوبة : 103) .
Ambillah sebagian dari harta mereka sebagai shadaqah (wajib) (zakat) yang berfungsi membersihkan dan mensucikan mereka….
تُطَهِّرُ dalam bahasa arab sering dipakai untuk menjelaskan makna suci tetapi pada aspek lahir. Contohnya firman Allah SWT :
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (المدثر : 4) .
Dan pakaianmu bersihkanlah.
طَهِّرْ di dalam ayat di atas digunakan untuk menunjukkan makna mensucikan pakaian, dan pakaian adalah benda lahir.
Sedangkan تُزَكِّى dalam bahasa arab sering dipakai untuk menunjukkan makna suci tetapi pada aspek batin. Contohnya firman Allah SWT :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (الشمس : 9-10) .
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Kata ganti dalam ayat ini kembali kepada jiwa dan jiwa adalah sesuatu yang batin. Dengan demikian maka زَكَّى dalam ayat ini digunakan untuk menunjukkan makna mensucikan jiwa, dan jiwa adalah sesuatu yang batin.
Demikianlah, fungsi zakat adalah untuk mensucikan aspek lahir dan batin seorang muzakki (pembayar zakat). Jika seseorang telah disucikan lahir dan batinya, tentu secara fisik dan psikis dia menjadi sehat dengan izin Allah SWT.

BUKTI : 2
تعريف الزكاة : ( اصطلاحا ) : اسم لما يخرجه الإنسان من حق الله تعالى إلى الفقراء .
Definisi zakat secara terminologis : Sebuah nama untuk apa-apa yang dibayarkan oleh orang berupa hak Allah untuk orang-orang fakir.
Yang bisa dipahami dari definisi zakat di atas bahwa zakat adalah sejumlah harta, dikeluarkan oleh seorang manusia. Dan yang paling pokok dalam definisi tersebut adalah bahwa zakat adalah hak Allah SWT, dan salah besar jika dikatakan bahwa zakat adalah hak ashnaf yang delapan macam. Apalagi jika ada orang mengatakan misalnya, "Ini bagian zakat untuk janda atau yatim". Yang demikian itu salah besar, karena janda atau yatim bukan sebutan dalam ashnaf penerima zakat, dan sesungguhnya zakat adalah hak Allah SWT. Janda dan yatim menerima zakat dari Allah SWT lewat amil jika mereka termasuk ke dalam ashnaf.
Orang yang tidak membayar zakat, baik zakat fitrah atau zakat maal, maka berarti hak Allah pun dia lahab juga. Perbuatan demikian bisa mengundang kemurkaan Allah SWT sehingga dia menjadi sakit karena murka Allah SWT atas dirinya. Sedangkan jika orang membayar zakat, maka dia tidak melahab hak Allah SWT dan menyerahkannya kepada Allah SWT lantaran amil. Dengan demikian dia jauh dari penyakit yang diturunkan oleh Allah SWT kepadanya karena tidak memancing kemurkaan-Nya.

BUKTI : 3

 مشكاة المصابيح - (1 / 410)
 1823 - [ 3 ] ( صحيح )

وَعَنْ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ بْنِ رَبِيْعَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لاَ تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلاَ لِآلِ مُحَمَّدٍ " . رواه مسلم .
Dari Abdul Muthallib bin Rabi'ah ia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya shadaqah-shadaqah ini benar-benar merupakan kotoran/sampah dari manusia, dan sungguh semua itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad". HR. Muslim.
Hadits di atas adalah sebuah shahih menurut tahqiq Syaikh Al Albani rahimahullah Ta'ala yang diriwayatkan oleh Muslim. Dari hadits ini dapat dipahami bahwa shadaqah dan zakat adalah sampah yang muncul dari manusia, menurut Rasulullah SAW. Bisa kita logikakan bahwa orang yang tidak membayar zakat, artinya dia memakan apa yang sesungguhnya adalah sampah. Pertanyaannya, sehatkah badan orang yang suka makan sampah ? Jawabannya : tidak akan sehat. Jika orang menghindari makan sampah, inilah orang yang menghindari penyakit, dan dengan izin Allah SWT dia akan menjadi sehat. Wallahu a'lam bish shawab………

*****

Pesan :
- Sebarkan artikel ini seluas-luasnya dalam rangka dakwah.

Kamis, 11 Agustus 2011

SHALAT YANG AFDHAL BAGI SEORANG WANITA

مشكاة المصابيح - (1 / 234)
1063 - [ 12 ] ( صحيح )
وعن ابن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في حجرتها وصلاتها في مخدعها أفضل من صلاتها في بيتها " . رواه أبو داود
Dari Ibnu Mas'ud dari Rasulullah SAW bersabda, "Shalat seorang wanita di tempat ia tidur lebih utama daripada shalatnya di kamarnya, dan shalatnya di tempatnya yang paling tersembunyi lebih utama daripada shalatnya di dalam ruang rumahnya". HR. Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani.
صحيح الترغيب والترهيب - (1 / 82)
342 - ( حسن )
وعنها رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : صلاة المرأة في بيتها خير من صلاتها في حجرتها وصلاتها في حجرتها خير من صلاتها في دارها وصلاتها في دارها خير من صلاتها في مسجد قومها .
رواه الطبراني في الأوسط بإسناد جيد .
Darinya RA (salah seorang istri Rasul SAW) berkata, "Rasulullah SAW bersabda, "Shalat seorang wanita di tempat tidurnya lebih baik daripada shalatnya di kamarnya, shalatnya di kamarnya lebih baik daripada shalatnya di ruang dalam rumahnya, dan shalat di ruang dalam rumahnya lebih baik daripada shalatnya di masjid kaumnya". HR. Ath-Thabrani dengan sanad Jayyid (bagus) dan dinyatakan oleh Syaikh Al Albani derajatnya hasan.

Mohon maaf baru hanya 2 buah hadits yang diangkat dari sangat banyak hadits lain yang senada. Semoga bermanfaat.