KEHEBATAN SISTEM EKONOMI ISLAM
Pada hari Senin, 17 Nopember 2008, dalam edisinya yang ke 2048, tabloid Al Alamul Islamiy (العالم الإسلامى) memuat tulisan Dr. Aidhul Qarni pada halaman terakhir yang berjudul : جربوا الاقتصاد الإسلامى (Cobalah ekonomi Islam). Di antara pokok-pokok penting yang beliau tulis adalah :
1. Sistem ekonomi komunis telah menemui kegagalannya.
2. Di susul oleh sistem ekonomi kapitalis yang telah habis masa kejayaannya.
3. Tinggal sistem ekonomi Islam yang masih tangguh dan berjaya.
Dengan fakta sejarah baru yang demikian, maka tantangan Allah SWT di dalam surah Al Maidah ayat : 50
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (المائدة : 50) .
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?
mulai dilirik dan diperhatikan. Banyak orang mulai mengkaji Islam, terutama sejak kejadian WTC di Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Semangat mereka mengkaji Islam berangkat penasaran karena sikap dunia yang dikomandani Amerika Serikat memusuhi Islam. Ada apa dengan Islam ? Padahal kejadian WTC tidak pernah terbutkti bahwa langan dari Islam yang menjadi dalangnya. Mereka lebih semangat lagi mengkaji Islam setelah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh sistem komunis dan sistem kapitalis yang keduanya diusung oleh negara-negara adidaya. Ternyata akhirnya tidak berdaya. Kegagalan mereka itu susul-menyusul yang jaraknya tidak sampai belasan tahun.
Dr. Aidhul Qarni membedakan sebagian hal dalam sistem Islam dan dalam sistem sosialis dan kapitalis, yang keduanya disebut dengan syari’at buatan manusia.
Dalam hal kepemilikan, syari’at buatan manusia membolehkan penggunaan segala macam cara. Sehingga kepemilikan tidak ada batas dan tidak ada aturan yang mengendalikannya dan mendukung pemerataan. Sementara Islam mengharamkan jalan kepemilikan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Maka Islam mengharamkan riba, penipuan, perampokan, perampasan, pencurian, korupsi, kecurangan, suap dan lain sebagainya. Islam juga menjamin kecukupan bagi orang-orang fakir dari jalur zakat yang besar bagiannya 2,5 %. Islam juga menganjurkan infaq dan shadaqah untuk kemanusiaan dan kebaikan.
Beliau juga membedakan antara sistem Islam dan sistem buatan manusia. Beliau mengatakan, “Syari’at Allah itu dari atas, sedangkan syari’at manusia dari bawah. Jalan Allah itu dari Yang Maha Luhur, sedangkan jalan buatan manusia dari kehinaan. Risalah Islam itu dari Rabb alam semesta, sedangkan risalah buatan manusia itu dari tanah”.
Dunia menghadapi kehancuran perekonomian, dan tidak ada solusinya selain Islam. Bahkan kehancuran akhlak dan lembaga keluarga lebih dahulu binasa daripada perekonomian. Karena itu dunia Barat mulai sadar dengan keadaan dan apa yang sedang terjadi.
Beliau juga menulis, “Hingga banyak dari kalangan pembuat undang-undang di Barat menyerukan ajakan untuk mengambil manfaat dari hukum-hukum Islam berkenaan dengan hukuman, hukum-hukum harta dan tatanan yang berkenaan dengan keluarga dan wanita. Maka, mana para ulama kita yang bertanggungjawab untuk menyajikan risalah Islam yang jelas dan dakwah yang benar dan bisa diterima, yang menjelaskan keluwesan dan kemudahan dalam Islam. Mereka, hingga kini hanya berdebat mengenai melihat bulan sabit Ramadhan dan Syawwal, apakah dengan dasar hisab atau rukyah. Ironisnya, perselisihan itu telah berlangsung di kalangan mereka selama bertahun-tahun”.
Beliau juga menyeru, “Wahai orang-orang alim. Kita memiliki jalan pemecahan masalah yang datang dari Rabb dari langit. Telah datang kepada kita dengan sanad yang bersambung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dari Jibril, dari Rabb alam semesta”. Wallahu a’lam bish-shawab.
*****
Kamis, 30 April 2009
AWAS ! PENGARUH BURUK GLOBALISASI
WASPADA ! PENGARUH NEGATIF GLOBALISASI
Globalisasi, laksana pisau bermata dua. Dengan kata lain, maju kena mundurpun kena. Ada keuntungan yang ditimbulkan, ada pula kerugian yang akan didapatkan. Namun bagaimana mendapatkan keuntungan yang ditimbulkan ? Waspadailah pengaruh negatif globalisasi yang bakal muncul.
Dr. Abdul Qadir Muhammad Atha Shaufi, di dalam buku yang ia tulis dalam seri “Da’watul haq” edisi 215 menjelaskan hal itu dengan gamblang. Dia menulis bahwa globalisasi mempengaruhi aqidah, norma-norma dan menjauhkan kaum muslimin – terutama para pemuda – dari agama, syari’at dan hukum Islam.
Dalam bukunya, dia juga menegaskan bahwa globalisasi mempengaruhi aqidah para pemuda, terutama pada hal-hal berikut :
1. Memunculkan rasa ragu terhadap agama, sumber-sumbernya, hukum-hukum dan syari’atnya. Sehingga sangat mudah menyerang dan mencelanya.
2. Dalam iman kepada hal-hal ghaib secara umum. Kepada Allah Azza wa Jalla, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir dan lain sebagainya. Muncul pada kaum muslimin rasa ragu, kurang yakin, kelemahan iman kepada hari perhitungan, tidak peduli munculnya akibat yang buruk dan sembarangan kepada hal-hal yang halal atau yang haram.
3. Khususnya keimanan kepada Qadha dan Qadar. Para propagandis globalisasi selalu sibuk menyeru kaum muslimin untuk melontarkan penghinaan kepada Islam, dan khususnya kepada keimanan kepada Qadar yang harus bertanggungjawab atas adanya kondisi stagnan, diam dan negatif dalam kehidupan kaum muslimin di zaman modern ini. Telah nampak jelas pengaruh itu dengan munculnya pendapat tentang Jabr (manusia hanya wayang yang tidak bertanggungjawab atas semua perbuatannya karena dimainkan oleh Allah). Demikian juga, ketika kaum muslimin beralasan dengan menggunakan qadar untuk melegitimasi semua kemunkaran yang dilakukannya atau ketaatan yang ditinggalkannya. Dengan demikian ia merasa tidak perlu bertanggungjawab ata apa-apa yang ia lakukan.
4. Dalam aqidah berkenaan dengan walaa’ dan barraa’ (loyalitas dan antipati). Globalisasi akan membinasakan keduanya sedikit demi sedikit. Karena seorang muslim yang latah mengikuti orang kafir, secara perlahan dan tersembunyi, telah terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan mereka yang rusak.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sudi kiranya memelihara kaum muslimin dari berbagai keburukan dari musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan dan Maha Mulia. Wallahu a’lam bish shawab
Globalisasi, laksana pisau bermata dua. Dengan kata lain, maju kena mundurpun kena. Ada keuntungan yang ditimbulkan, ada pula kerugian yang akan didapatkan. Namun bagaimana mendapatkan keuntungan yang ditimbulkan ? Waspadailah pengaruh negatif globalisasi yang bakal muncul.
Dr. Abdul Qadir Muhammad Atha Shaufi, di dalam buku yang ia tulis dalam seri “Da’watul haq” edisi 215 menjelaskan hal itu dengan gamblang. Dia menulis bahwa globalisasi mempengaruhi aqidah, norma-norma dan menjauhkan kaum muslimin – terutama para pemuda – dari agama, syari’at dan hukum Islam.
Dalam bukunya, dia juga menegaskan bahwa globalisasi mempengaruhi aqidah para pemuda, terutama pada hal-hal berikut :
1. Memunculkan rasa ragu terhadap agama, sumber-sumbernya, hukum-hukum dan syari’atnya. Sehingga sangat mudah menyerang dan mencelanya.
2. Dalam iman kepada hal-hal ghaib secara umum. Kepada Allah Azza wa Jalla, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir dan lain sebagainya. Muncul pada kaum muslimin rasa ragu, kurang yakin, kelemahan iman kepada hari perhitungan, tidak peduli munculnya akibat yang buruk dan sembarangan kepada hal-hal yang halal atau yang haram.
3. Khususnya keimanan kepada Qadha dan Qadar. Para propagandis globalisasi selalu sibuk menyeru kaum muslimin untuk melontarkan penghinaan kepada Islam, dan khususnya kepada keimanan kepada Qadar yang harus bertanggungjawab atas adanya kondisi stagnan, diam dan negatif dalam kehidupan kaum muslimin di zaman modern ini. Telah nampak jelas pengaruh itu dengan munculnya pendapat tentang Jabr (manusia hanya wayang yang tidak bertanggungjawab atas semua perbuatannya karena dimainkan oleh Allah). Demikian juga, ketika kaum muslimin beralasan dengan menggunakan qadar untuk melegitimasi semua kemunkaran yang dilakukannya atau ketaatan yang ditinggalkannya. Dengan demikian ia merasa tidak perlu bertanggungjawab ata apa-apa yang ia lakukan.
4. Dalam aqidah berkenaan dengan walaa’ dan barraa’ (loyalitas dan antipati). Globalisasi akan membinasakan keduanya sedikit demi sedikit. Karena seorang muslim yang latah mengikuti orang kafir, secara perlahan dan tersembunyi, telah terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan mereka yang rusak.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sudi kiranya memelihara kaum muslimin dari berbagai keburukan dari musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan dan Maha Mulia. Wallahu a’lam bish shawab
Minggu, 26 April 2009
SIKAP SEKJEN NATO YANG BARU TERHADAP ISLAM
Mungkin, sebagian kaum muslimin yang konsen terhadap wawasan keislaman dengan skala internasional merasa penasaran, ingin tahu apa yang terjadi ketika pakta pertahanan Antlantik Utara NATO (North Atlantic Treaty Organisation) hendak memilih sekretaris jendralnya yang baru. Lebih mengusik keingin-tahuan lagi, ketika yang dicalonkan adalah mantan perdana menteri Denmark, Anders Fogh Rasmussen.
Kaum muslimin bisa terusik ketenangannya, ketika mendengar bahwa NATO akan dipimpin oleh seorang mantan perdana menteri Denmark. Kenapa ? Kaum muslimin tentu ingat apa yang terjadi pada tahun 2006 lalu di Denmark. Peristiwa kontroversial yang membangkitkan amarah kaum muslimin di seluruh dunia. Yaitu kartoon Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Turki, sebagai salah satu negara anggota NATO telah mengeluarkan ancaman, jika mantan perdana menteri Denmark itu dicalonkan sebagai sekretaris jendral NATO yang baru, Turki akan menggunakan hak vetonya.
Jelas bagi semua kaum muslimin, bahwa tidak mungkin Anders Fogh Rasmussen dengan gontai mundur dari pencalonan itu karena melihat gelagat Turki. Tentu dia dan negeranya menilai bahwa menjadi sekretaris jendral NATO adalah prestasi dan prestise bagi negaranya. Sehingga hal itu harus dengan gigih dipertahankan dan disukseskan. Itu sudah pasti. Lantas apa yang dia lakukan ketika ada pihak-pihak yang tidak setuju ? Inilah yang menarik untuk diketahui.
Sudah dapat dibayangkan, jika Anders Fogh Rasmussen mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Turki, apa yang dia lakukan. Di dalam sebuah diskusi yang diadakah di Istanbul yang dilansir oleh kantor berita Roiter yang kemudian dimuat di dalam tabloid Al Alamul Islamiy edisi : 2066 yang diterbitkan pada hari Senin, 6 April 2009 oleh Rabithatul Alamil Islamiy, dia mengutarakan niatnya untuk membangun jembatan yang menghubungkan antara dunia Islam dan Barat. Dia mengatakan, “Saya menghargai Islam sebagai salah satu agama besar di dunia. Demikian juga terhadap nilai-nilai keagamaan yang dikembangkannya”. Dia juga menambahkan, “Saya merasa sangat sedih, ketika mayoritas kaum muslimin menganggap bahwa gambar-gambar karikatur (karikatur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam) sebagai sebuah propaganda pemerintah Denmark untuk merendahkan atau sikap menghinakan Islam atau Rasul Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ini tidak benar”.
Niat dan ungkapan Rasmussen itu harus selalu dicermati oleh kaum muslimin, untuk mengetahui apakah dia tulus atau masih menjadi pelayan Amerika dan Barat. Yang jelas dengan krisis ekonomi global sekarang ini, Islam telah mendapatkan kekuatan penting dan besar, yaitu ketangguhan sistim ekonomi. Jika mereka hebat dalam militer, apakah bisa tetap mempertahankan kehebatannya jika kegagahan ekonomi sudah lenyap dari mereka. Mari kita tunggu perkembangan dunia selanjutnya. Wallahu a’lam bish shawab.
*****
Kaum muslimin bisa terusik ketenangannya, ketika mendengar bahwa NATO akan dipimpin oleh seorang mantan perdana menteri Denmark. Kenapa ? Kaum muslimin tentu ingat apa yang terjadi pada tahun 2006 lalu di Denmark. Peristiwa kontroversial yang membangkitkan amarah kaum muslimin di seluruh dunia. Yaitu kartoon Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Turki, sebagai salah satu negara anggota NATO telah mengeluarkan ancaman, jika mantan perdana menteri Denmark itu dicalonkan sebagai sekretaris jendral NATO yang baru, Turki akan menggunakan hak vetonya.
Jelas bagi semua kaum muslimin, bahwa tidak mungkin Anders Fogh Rasmussen dengan gontai mundur dari pencalonan itu karena melihat gelagat Turki. Tentu dia dan negeranya menilai bahwa menjadi sekretaris jendral NATO adalah prestasi dan prestise bagi negaranya. Sehingga hal itu harus dengan gigih dipertahankan dan disukseskan. Itu sudah pasti. Lantas apa yang dia lakukan ketika ada pihak-pihak yang tidak setuju ? Inilah yang menarik untuk diketahui.
Sudah dapat dibayangkan, jika Anders Fogh Rasmussen mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Turki, apa yang dia lakukan. Di dalam sebuah diskusi yang diadakah di Istanbul yang dilansir oleh kantor berita Roiter yang kemudian dimuat di dalam tabloid Al Alamul Islamiy edisi : 2066 yang diterbitkan pada hari Senin, 6 April 2009 oleh Rabithatul Alamil Islamiy, dia mengutarakan niatnya untuk membangun jembatan yang menghubungkan antara dunia Islam dan Barat. Dia mengatakan, “Saya menghargai Islam sebagai salah satu agama besar di dunia. Demikian juga terhadap nilai-nilai keagamaan yang dikembangkannya”. Dia juga menambahkan, “Saya merasa sangat sedih, ketika mayoritas kaum muslimin menganggap bahwa gambar-gambar karikatur (karikatur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam) sebagai sebuah propaganda pemerintah Denmark untuk merendahkan atau sikap menghinakan Islam atau Rasul Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ini tidak benar”.
Niat dan ungkapan Rasmussen itu harus selalu dicermati oleh kaum muslimin, untuk mengetahui apakah dia tulus atau masih menjadi pelayan Amerika dan Barat. Yang jelas dengan krisis ekonomi global sekarang ini, Islam telah mendapatkan kekuatan penting dan besar, yaitu ketangguhan sistim ekonomi. Jika mereka hebat dalam militer, apakah bisa tetap mempertahankan kehebatannya jika kegagahan ekonomi sudah lenyap dari mereka. Mari kita tunggu perkembangan dunia selanjutnya. Wallahu a’lam bish shawab.
*****
MAKNA TAKWA DALAM BAHASA YANG INDAH
SEBAGIAN ULAMA BERUCAP
خَلِّ الذُّنُوْبَ صَغِيْرَهَا # وَكَبِيْرَهَا ذَاكَ التُّقَى
وَاعْمَلْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْ # ضِ الشَّوْكِ يُحَذِّرُ مَا يَرَى
لاَ تَحْقِرَنَّ صَغِيْرَةً # إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى
Tinggalkan segala dosa kecil
dan besar, itulah taqwa
Lakukan seperti orang berjalan di atas
tanah penuh duri, waspada akan apa yang dilihat
Jangan sepelekan setiap yang kecil
gunung pun hanya dari kerikil
قال بعضهم ، التقوى : أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله ، وأن تترك ما نهى عنه الله على نور من الله تخشى عقاب الله .
Sebagian Ulama berkata : Taqwa adalah engkau berbuat ketaatan kepada Allah, dengan cahaya penerang dari Allah, engkau harap pahala Allah. Engkau tinggalkan semua larangan Allah, dengan cahaya penerang dari Allah, karena engkau takut hukuman Allah.
(Dari kitab Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid II, halaman : 478)
خَلِّ الذُّنُوْبَ صَغِيْرَهَا # وَكَبِيْرَهَا ذَاكَ التُّقَى
وَاعْمَلْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْ # ضِ الشَّوْكِ يُحَذِّرُ مَا يَرَى
لاَ تَحْقِرَنَّ صَغِيْرَةً # إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى
Tinggalkan segala dosa kecil
dan besar, itulah taqwa
Lakukan seperti orang berjalan di atas
tanah penuh duri, waspada akan apa yang dilihat
Jangan sepelekan setiap yang kecil
gunung pun hanya dari kerikil
قال بعضهم ، التقوى : أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله ، وأن تترك ما نهى عنه الله على نور من الله تخشى عقاب الله .
Sebagian Ulama berkata : Taqwa adalah engkau berbuat ketaatan kepada Allah, dengan cahaya penerang dari Allah, engkau harap pahala Allah. Engkau tinggalkan semua larangan Allah, dengan cahaya penerang dari Allah, karena engkau takut hukuman Allah.
(Dari kitab Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid II, halaman : 478)
SEKITAR KEMUNAFIKAN
(النفاق) NIFAQ
Di antara sifat-sifat buruk manusia adalah nifaq. Nifaq dari kata nafaqa (نفق), artinya : mati. Dari kata nafaqa (نفق) juga bisa terbentuk kata naafaqa (نافق), artinya : masuk lalu keluar. Kata yang menunjukkan pelaku nifaq adalah munaafiq (منافق) .
Munaafiq (munafiq) adalah orang yang melakukan tindakan nifaaq (nifaq). Di dalam kamus “Lisanul Arab” disebutkan sebagai berikut :
وَالنِّفَاقُ بِالْكَسْرِ فِعْلُ الْمُنَافِقِ وَالنِّفَاقُ الدُّخُوْلُ فِي اْلإِسْلاَمِ مِنْ وَجْهٍ وَالْخُرُوْجُ عَنْهُ مِنْ آخَرَ .
“…dan nifaq (dengan tanda kasrah) adalah perbuatan seorang munafiq, sedangkan nifaq adalah masuk ke dalam Islam dengan cara sedemikian rupa lalu keluar darinya dengan cara yang lain”.
Jika demikian, maka munafiq sama dengan murtad, yaitu seorang muslim yang keluar dari Islam.
Sedangkan di dalam hadits disebutkan :
أَكْثَرُ مُنافِقِى هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُرَّاؤُهَا .
“Kebanyakan orang munafiq di dalam umat ini adalah para ahli membacanya”.
Yang dimaksud dengan nifaq di dalam hadits di atas adalah riya’, karena keduanya, yakni : nifaq dan riya’ menunjukkan perkataan yang berbeda dengan apa yang ada di dalam batin.
Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَزَادَ فِى رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِم
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Tanda-tanda seorang munafiq itu ada tiga : Jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia khianat'". (Muttafaq alaih).
Dalam riwayat Muslim ditambah, "Sekali pun dia berpuasa, shalat, dan mengklaim dirinya seorang muslim".
Dalam hadits ini tidak ditunjukkan seorang munafiq itu yang masuk lalu keluar dari Islam, akan tetapi setiap muslim yang memiliki satu di antara tiga sifat tersebut, sekalipun dia masih aktif melakukan puasa, shalat dan masih mengaku sebagai seorang muslim. Orang yang rajin melakukan puasa, shalat dan mengaku muslim, bisa saja masuk golongan orang munafiq. Tolok ukur untuk mengetahui seseorang itu munafiq atau tidak, bukan dilihat dari shalatnya, puasanya dan pengakuannya sebagai seorang muslim, akan tetapi orang yang konsisten untuk tidak dusta, ingkar janji dan khianat.
Dalam hadits lain beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرُو بْنِ الْعَاصِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَاصًّا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
"Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Empat hal jika semua itu ada pada seseorang maka seseorang itu munafiq yang sebenar-benarnya dan barangsiapa sebagian dari yang empat itu ada padanya maka pada dirinya telah ada bagian dari kemunafiqan sehingga ia meninggalkannya : Jika ia dipercaya ia khianat, jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia lancung dan jika berdebat ia melampaui batas'". (Muttafaq alaih).
Satu tambahan ciri seorang munafiq, yaitu orang yang melampaui batas jika berdebat.
Dengan demikian, seorang munafiq adalah orang yang sangat berbahaya. Melakukan mu’amalah (kerjasama) dengannya, akan menghadapi risiko yang sangat besar. Karena perkataannya ‘tidak bisa dipegang’. Dia mengatakan apa-apa yang sesungguhnya tidak ada di dalam hatinya. Ia membuat orang percaya kepada dirinya agar bisa dijadikan korbannya.
Jika dia berjanji, dia selalu mengingkarinya. Janji yang dia ucapkan hanya untuk menekan orang lain, agar tenang dan tidak menuntut hak kepada dirinya. Sehingga dirinya selamat dan aman dari cercaan orang lain.
Jika dipercaya, khianat. Apa-apa yang diamanahkan (dipercayakan) kepada dirinya, dengan mudah ia khianati. Asal menguntungkan bagi dirinya, maka dia tidak peduli dengan orang lain. Segala upaya dia lakukan untuk menutupi khianat dirinya. Kecenderungan dusta, ingkar janji, khianat dan melampaui batas menunjukkan kematian hatinya, sehingga tidak ada rasa takut kepada Allah. Apalagi kepada sesama manusia. Semua orang harus bisa menjadi korbannya. Hati-hati bermu’amalah dengan orang-orang munafiq.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَعَدَ الله الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ
“Allah mengancam orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela`nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal”. (At-Taubah : 68).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka". (An-Nisa : 145).
Dua ayat ini, ancaman bagi orang munafiq. Tapi ingat, ketika hendak melakukan mu’amalah dengan orang munafiq bahwa dia itu seorang munafiq dan tentu tidak beriman kepada ayat-ayat dan firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan dia dengar dan tidak berpengaruh di dalam hatinya. Ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala itu hanya bisa dipahami dan direnungkan oleh orang-orang beriman yang takut akan ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, sekali seorang menjadi munafiq, akan sulit baginya melepaskan diri dari kenifaqan itu. Kenapa demikian ? Mungkin karena dia telah ‘disponsori’ oleh setan untuk berbuat kejahatan, semisal kemunafiqan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bish shawab.
*****
Di antara sifat-sifat buruk manusia adalah nifaq. Nifaq dari kata nafaqa (نفق), artinya : mati. Dari kata nafaqa (نفق) juga bisa terbentuk kata naafaqa (نافق), artinya : masuk lalu keluar. Kata yang menunjukkan pelaku nifaq adalah munaafiq (منافق) .
Munaafiq (munafiq) adalah orang yang melakukan tindakan nifaaq (nifaq). Di dalam kamus “Lisanul Arab” disebutkan sebagai berikut :
وَالنِّفَاقُ بِالْكَسْرِ فِعْلُ الْمُنَافِقِ وَالنِّفَاقُ الدُّخُوْلُ فِي اْلإِسْلاَمِ مِنْ وَجْهٍ وَالْخُرُوْجُ عَنْهُ مِنْ آخَرَ .
“…dan nifaq (dengan tanda kasrah) adalah perbuatan seorang munafiq, sedangkan nifaq adalah masuk ke dalam Islam dengan cara sedemikian rupa lalu keluar darinya dengan cara yang lain”.
Jika demikian, maka munafiq sama dengan murtad, yaitu seorang muslim yang keluar dari Islam.
Sedangkan di dalam hadits disebutkan :
أَكْثَرُ مُنافِقِى هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُرَّاؤُهَا .
“Kebanyakan orang munafiq di dalam umat ini adalah para ahli membacanya”.
Yang dimaksud dengan nifaq di dalam hadits di atas adalah riya’, karena keduanya, yakni : nifaq dan riya’ menunjukkan perkataan yang berbeda dengan apa yang ada di dalam batin.
Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَزَادَ فِى رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِم
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Tanda-tanda seorang munafiq itu ada tiga : Jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia khianat'". (Muttafaq alaih).
Dalam riwayat Muslim ditambah, "Sekali pun dia berpuasa, shalat, dan mengklaim dirinya seorang muslim".
Dalam hadits ini tidak ditunjukkan seorang munafiq itu yang masuk lalu keluar dari Islam, akan tetapi setiap muslim yang memiliki satu di antara tiga sifat tersebut, sekalipun dia masih aktif melakukan puasa, shalat dan masih mengaku sebagai seorang muslim. Orang yang rajin melakukan puasa, shalat dan mengaku muslim, bisa saja masuk golongan orang munafiq. Tolok ukur untuk mengetahui seseorang itu munafiq atau tidak, bukan dilihat dari shalatnya, puasanya dan pengakuannya sebagai seorang muslim, akan tetapi orang yang konsisten untuk tidak dusta, ingkar janji dan khianat.
Dalam hadits lain beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرُو بْنِ الْعَاصِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَاصًّا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
"Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Empat hal jika semua itu ada pada seseorang maka seseorang itu munafiq yang sebenar-benarnya dan barangsiapa sebagian dari yang empat itu ada padanya maka pada dirinya telah ada bagian dari kemunafiqan sehingga ia meninggalkannya : Jika ia dipercaya ia khianat, jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia lancung dan jika berdebat ia melampaui batas'". (Muttafaq alaih).
Satu tambahan ciri seorang munafiq, yaitu orang yang melampaui batas jika berdebat.
Dengan demikian, seorang munafiq adalah orang yang sangat berbahaya. Melakukan mu’amalah (kerjasama) dengannya, akan menghadapi risiko yang sangat besar. Karena perkataannya ‘tidak bisa dipegang’. Dia mengatakan apa-apa yang sesungguhnya tidak ada di dalam hatinya. Ia membuat orang percaya kepada dirinya agar bisa dijadikan korbannya.
Jika dia berjanji, dia selalu mengingkarinya. Janji yang dia ucapkan hanya untuk menekan orang lain, agar tenang dan tidak menuntut hak kepada dirinya. Sehingga dirinya selamat dan aman dari cercaan orang lain.
Jika dipercaya, khianat. Apa-apa yang diamanahkan (dipercayakan) kepada dirinya, dengan mudah ia khianati. Asal menguntungkan bagi dirinya, maka dia tidak peduli dengan orang lain. Segala upaya dia lakukan untuk menutupi khianat dirinya. Kecenderungan dusta, ingkar janji, khianat dan melampaui batas menunjukkan kematian hatinya, sehingga tidak ada rasa takut kepada Allah. Apalagi kepada sesama manusia. Semua orang harus bisa menjadi korbannya. Hati-hati bermu’amalah dengan orang-orang munafiq.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَعَدَ الله الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ
“Allah mengancam orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela`nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal”. (At-Taubah : 68).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka". (An-Nisa : 145).
Dua ayat ini, ancaman bagi orang munafiq. Tapi ingat, ketika hendak melakukan mu’amalah dengan orang munafiq bahwa dia itu seorang munafiq dan tentu tidak beriman kepada ayat-ayat dan firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan dia dengar dan tidak berpengaruh di dalam hatinya. Ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala itu hanya bisa dipahami dan direnungkan oleh orang-orang beriman yang takut akan ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, sekali seorang menjadi munafiq, akan sulit baginya melepaskan diri dari kenifaqan itu. Kenapa demikian ? Mungkin karena dia telah ‘disponsori’ oleh setan untuk berbuat kejahatan, semisal kemunafiqan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bish shawab.
*****
Kamis, 23 April 2009
SENJATA SETAN MAKAN SETAN
SENJATA DARI SETAN/JIN UNTUK MELAWAN SETAN/JIN
Anda takut setan atau jin ? Kalau ya, apakah anda sudah tidak lebih sempurna daripada setan dan jin ? Apakah anda telah kehilangan Allah, Pencipta setan dan jin ? Apakah iman telah hilang substansinya dari anda ? Tentu tidak, hanya lupa atau kurang penguatan saja.
Hantu atau cerita orang mati hidup kembali, hanyalah ulah setan atau jin. Itulah sebagian dari pekerjaan mereka. Semua pekerjaan mereka hanya untuk satu tujuan : menggoda manusia. Sehingga manusia menjadi penakut, pemalas, lemah fisik dan mental, tidak percaya diri, banyak mengalami ragu-ragu, serakah, rakus, tidak punya rasa malu, bengis, zhalim dan lain sebagainya. Semua itu bermuara kepada menurunnya kwalitas dan kwantitas ibadah dan rusaknya akhlak.
Kalau sudah demikian, sukseslah setan atau jin menjalankan missinya. Ingat ! setan atau jin lebih gigih, lebih semangat, pantang mundur dan pantang putus-asa menggoda manusia dengan segala kreatifitas dan cara mereka. Jika manusia tidak memiliki senjata lahir dan batin untuk menghadapi mereka, pasti dia akan ‘keok’ dan menjadi korban.
Di dalam tafsir Ibnu katsir, Abdullah bin Ubay bin Ka’ab, Abu Dzarr, Abu Ayyub, Abu Hurairah dan Umar bin Al Khaththab adalah orang-orang yang berpengalaman berjumpa dengan setan atau jin. Setan dan jin itu akan mencurangi mereka. Dengan semangatnya, mereka bisa menaklukkan setan dan jin itu, hingga akhirnya mereka mendapatkan pengakuan setan atau jin, bahwa mereka tidak akan bisa ‘berkutik’ menghadapi manusia yang melawan mereka dengan suatu ‘senjata’ yang ia sebutkan.
Senjata penakluk setan atau jin yang disebutkan itu, dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Penasaran atau sudah tahu senjata penakluk setan atau jin ? Senjata itu adalah ayat kursi dalam suran Al Baqarah ayat : 255. Imanilah ayat ini dan camkanlah kandungannya. Semoga selamat dari kenakalan setan dan jin. Wallahu a’lam bish shawab.
Anda takut setan atau jin ? Kalau ya, apakah anda sudah tidak lebih sempurna daripada setan dan jin ? Apakah anda telah kehilangan Allah, Pencipta setan dan jin ? Apakah iman telah hilang substansinya dari anda ? Tentu tidak, hanya lupa atau kurang penguatan saja.
Hantu atau cerita orang mati hidup kembali, hanyalah ulah setan atau jin. Itulah sebagian dari pekerjaan mereka. Semua pekerjaan mereka hanya untuk satu tujuan : menggoda manusia. Sehingga manusia menjadi penakut, pemalas, lemah fisik dan mental, tidak percaya diri, banyak mengalami ragu-ragu, serakah, rakus, tidak punya rasa malu, bengis, zhalim dan lain sebagainya. Semua itu bermuara kepada menurunnya kwalitas dan kwantitas ibadah dan rusaknya akhlak.
Kalau sudah demikian, sukseslah setan atau jin menjalankan missinya. Ingat ! setan atau jin lebih gigih, lebih semangat, pantang mundur dan pantang putus-asa menggoda manusia dengan segala kreatifitas dan cara mereka. Jika manusia tidak memiliki senjata lahir dan batin untuk menghadapi mereka, pasti dia akan ‘keok’ dan menjadi korban.
Di dalam tafsir Ibnu katsir, Abdullah bin Ubay bin Ka’ab, Abu Dzarr, Abu Ayyub, Abu Hurairah dan Umar bin Al Khaththab adalah orang-orang yang berpengalaman berjumpa dengan setan atau jin. Setan dan jin itu akan mencurangi mereka. Dengan semangatnya, mereka bisa menaklukkan setan dan jin itu, hingga akhirnya mereka mendapatkan pengakuan setan atau jin, bahwa mereka tidak akan bisa ‘berkutik’ menghadapi manusia yang melawan mereka dengan suatu ‘senjata’ yang ia sebutkan.
Senjata penakluk setan atau jin yang disebutkan itu, dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Penasaran atau sudah tahu senjata penakluk setan atau jin ? Senjata itu adalah ayat kursi dalam suran Al Baqarah ayat : 255. Imanilah ayat ini dan camkanlah kandungannya. Semoga selamat dari kenakalan setan dan jin. Wallahu a’lam bish shawab.
Selasa, 21 April 2009
10 PENGHAPUS DOSA
Ungkapan Sa’id bin Jabir berikut ini sekilas mengejutkan. Dia mengatakan, “Sungguh, seorang hamba melakukan suatu kebaikan sehingga karenanya ia justeru masuk neraka dan sungguh seorang hamba melakukan keburukan sehingga karenanya ia justeru masuk surga. Yang demikian itu, karena ia melakukan kebaikan lalu menjadi fokus perhatiannya sampai akhirnya takjub karena amal kebaikannya sendiri. Sementara, orang lain melakukan keburukan lalu menjadi fokus perhatiannya sampai akhirnya ia sadar untuk memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala seraya bartaubat kepadaNya dari perbuatan itu".
Amal kebaikan, bisa menjadikan pelakunya masuk neraka, kenapa ? Karena dia berlebihan menilai amalnya sendiri sehingga muncul darinya rasa riya’ atau sum’ah. Dia terdorong untuk mengatakannya kepada orang lain, bukan demi dakwah tetapi agar mendapatkan simpati dan pujian. Jika demikian, yang muncul adalah riya’. Riya’, dosa syirik terkecil yang mendorong pelakunya masuk ke dalam neraka.
Sedangkan pelaku dosa, justeru masuk ke dalam surga, kenapa ? Karena dia sadar lalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan ikhlas. Selama orang belum mengalami ghirghirah (gemuruh napas dalam dada karena sakaratul maut) taubat seorang hamba masih diterima. Ingat, budak muda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang beragama Yahudi. Dia menjadi penghuni surga sekalipun belum pernah melakukan kebaikan dalam bingkai Islam. Karena pada akhir hayatnya dia menerima dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sehingga menjadi seorang muslim yang taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seorang mukmin, jika melakukan dosa, siksa akan terhalang datang kepadanya karena sepuluh sebab :
1. Ia bertaubat sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima taubatnya. Sesungguhnya, seseorang yang melakukan taubat dari suatu dosa maka ia menjadi seperti orang tanpa dosa.
2. Ia memohon ampun hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberinya ampunan.
3. Ia melakukan berbagai kebajikan yang bisa menghapuskan dosa-dosanya, karena sesungguhnya kebaikan itu menghilangkan keburukan.
4. Karena saudara-saudara mukminnya berdo'a untuknya dan mereka memintakan ampun untuknya ketika ia masih hidup atau setelah meninggal dunia.
5. Karena mereka menghadiahkan pahala berbagai amal-perbuatan mereka karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan manfaat kepadanya.
6. Karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memberinya syafaat.
7. Ia diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia dengan berbagai macam musibah dan ia sabar menerimanya sehingga karenanya tertebus dosa-dosanya.
8. Ia diuji di alam barzakh (alam kubur) dengan teriakan keras yang karenanya tertebus dosa-dosanya.
9. Ketika datang kiamat, ia diuji dengan berbagai kejadian yang sangat mengerikan, karenanya tertebus dosa-dosanya.
10. Karena ia disayangi oleh Dzat yang Maha Penyayang dari semua penyayang.
Semoga kita menjadi sadar beragama, sehingga menjadi salah satu di antara orang-orang yang mendapat penutup segala dosa. Sadar….sadar….sadar….istiqamah….istiqamah….istiqamah. Wallahu a’lam bish shawab.
*****
Amal kebaikan, bisa menjadikan pelakunya masuk neraka, kenapa ? Karena dia berlebihan menilai amalnya sendiri sehingga muncul darinya rasa riya’ atau sum’ah. Dia terdorong untuk mengatakannya kepada orang lain, bukan demi dakwah tetapi agar mendapatkan simpati dan pujian. Jika demikian, yang muncul adalah riya’. Riya’, dosa syirik terkecil yang mendorong pelakunya masuk ke dalam neraka.
Sedangkan pelaku dosa, justeru masuk ke dalam surga, kenapa ? Karena dia sadar lalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan ikhlas. Selama orang belum mengalami ghirghirah (gemuruh napas dalam dada karena sakaratul maut) taubat seorang hamba masih diterima. Ingat, budak muda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang beragama Yahudi. Dia menjadi penghuni surga sekalipun belum pernah melakukan kebaikan dalam bingkai Islam. Karena pada akhir hayatnya dia menerima dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sehingga menjadi seorang muslim yang taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seorang mukmin, jika melakukan dosa, siksa akan terhalang datang kepadanya karena sepuluh sebab :
1. Ia bertaubat sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima taubatnya. Sesungguhnya, seseorang yang melakukan taubat dari suatu dosa maka ia menjadi seperti orang tanpa dosa.
2. Ia memohon ampun hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberinya ampunan.
3. Ia melakukan berbagai kebajikan yang bisa menghapuskan dosa-dosanya, karena sesungguhnya kebaikan itu menghilangkan keburukan.
4. Karena saudara-saudara mukminnya berdo'a untuknya dan mereka memintakan ampun untuknya ketika ia masih hidup atau setelah meninggal dunia.
5. Karena mereka menghadiahkan pahala berbagai amal-perbuatan mereka karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan manfaat kepadanya.
6. Karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memberinya syafaat.
7. Ia diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia dengan berbagai macam musibah dan ia sabar menerimanya sehingga karenanya tertebus dosa-dosanya.
8. Ia diuji di alam barzakh (alam kubur) dengan teriakan keras yang karenanya tertebus dosa-dosanya.
9. Ketika datang kiamat, ia diuji dengan berbagai kejadian yang sangat mengerikan, karenanya tertebus dosa-dosanya.
10. Karena ia disayangi oleh Dzat yang Maha Penyayang dari semua penyayang.
Semoga kita menjadi sadar beragama, sehingga menjadi salah satu di antara orang-orang yang mendapat penutup segala dosa. Sadar….sadar….sadar….istiqamah….istiqamah….istiqamah. Wallahu a’lam bish shawab.
*****
Langganan:
Postingan (Atom)