MENGAPA BUNUH DIRI ?
Dr. ‘Aidh Al Qarni, penulis kitab “Laa Tahzan” dalam koran العالم الإسلامى edisi : 2033 yang terbit pada hari Senin, 7 Juli 2008 pada halaman : 8 menulis artikel dengan judul لماذا الانتحار (Mengapa bunuh diri ?). Dia, dalam artikelnya itu menjelaskan bahwa jika manusia mengalami depresi berat, memilih atheisme, maka kehidupan ini akhirnya tidak bermakna baginya. Eksistensi tidak penting baginya. Dunia tidak berhak untuk kehidupan di dalamnya. Ketika demikian, maka manusia mulai berpikir bagaimana mengakhiri hidup.
Akan tetapi seorang mukmin yang beriman kepada Allah SWT tidak akan melakukan perbuatan itu selamanya. Karena, sekalipun dunia gelap-gulita baginya, masih ada secercah cita-cita, seberkas harapan dan sedikit kesabaran. Sehingga seorang mukmin tidak melakukan bunuh diri, karena dia hidup apa adanya dan mengerti benar bahwa hidup ini selalu berubah. Selain itu, dia menyadari bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan kemudahan, setelah malam penuh kesempitan datanglah pagi yang sarat kemudahan, sebagaimana firman Allah SWT,
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Qs. Al Insyirah : 5-6).
Para ulama menyebutkan bahwa orang yang mengutamakan bunuh diri tiada lain karena salah satu di antara 2 sebab berikut :
1. Ingkar kepada Allah SWT. Dia berkeyakinan bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada akhirat, tidak ada hisab, tidak ada surga, tidak ada neraka, kehidupan hanya permainan dan permainan belaka, alam ini ada hanya kebetulan, kehidupan dan kematian hanya sesuatu yang bakal sirna.
2. Hilang kesadaran, buta nurani dan hilang akal. Orang seperti ini bertindak layaknya orang-orang gila. Akan tetapi orang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir dan berakal tidak akan berpikir tentang sesuatu yang sangat hina bagi kehidupannya, karena dia sadar bahwa dia bertanggungjawab atas dirinya dan dirinya akan disiksa di akhirat dengan alat yang ia gunakan untuk mengakhiri hidup. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Barangsiapa membinasakan dirinya dengan seutas tali sehingga ia bunuh diri, maka dia di dalam neraka Jahannam dan bunuh diri dengannya selama-lamanya. Barangsiapa minum racun sehingga bunuh diri maka racun itu di tangannya dan ia menenggaknya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Barangsiapa bunuh diri dengan menggunakan besi, maka basi itu di tangannya dan menusuk perut dengannya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya”.
Iman adalah potensi besar, bekal yang tidak akan habis dan cadangan yang tidak akan berkurang, seperti apapun gelapnya malam karena musibah dan kesulitan yang mencekik.
Seorang mukmin selalu dalam penantian jalan keluar dengan penuh kesabaran yang sesungguhnya adalah ibadah. Selalu menghitung-hitung karena dalam setiap musibah itu ketaatan. Selalu ridha dengan pilihan Allah SWT dan selalu menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Selalu beriman kepada Qadha dan Qadar. Selalu yakin bahwa dunia adalah kampung yang berjalan menuju alam yang lain yang lebih panjang, lebih mulia, lebih bahagia dan kekal abadi keindahan dan kecerahannya sebagaimana firman Allah SWT :
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. An-Nahl : 97).
Orang beriman menyadari bahwa karena kenikmatan syukur, karena musibah sabar dan karena dosa mohon ampunan. Seorang mukmin itu teguh, yakin dan ridha menghadapi qadha Allah SWT. Sehingga di antara mereka ada yang ditangkap lalu disiksa, dipukuli, ditahan dan ada pula yang digiring ke tiang gantungan dengan penuh ridha, senyum dan selalu mengharapkan pahala dari Allah SWT. Lihatlah Khubaib bin Adiy RA yang disiksa oleh orang-orang musyrik Makkah. Kemudian mereka mendirikan tiang gantungan untuknya. Mereka menggiringnya menuju ke tiang gantungan. Ia meminta kepada mereka kesempatan terakhir untuk menunaikan shalat dua rakaat. Usai shalat ia menghadap kepada mereka seraya berkata, “Demi Allah, jika kalian tidak mengatakan bahwa aku takut mati, maka pasti aku panjangkan shalatku”. Ketika ia dalam keadaan berkalung tali jerat mendendangkan sebuah syair :
وَلَسْتُ أُبَالِى حِيْنَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا # عَلَى أَىِّ جَنْبٍ كَانَ فِى اللهِ مَصْرَعِى
Tak peduli ketika aku dibunuh sebagai seorang muslim
Dalam keadaan apapun, di tangan Allah kematianku
Orang-orang mukmin tidak memikirkan bunuh diri, karena mereka berada di dalam hukum Allah dan di dalam kehendak-Nya. Mereka menyembah-Nya dalam keadaan mudah atau susah. Mereka mengetahui bahwa segala sesuatu dengan qadha dan qadar-Nya. Mereka juga mengetahui bahwa pilihan di tangan Allah SWT.
Seorang yang bunuh diri adalah orang yang depresi, gagal dan hampa sehingga melihat kematian dan kehidupannya sama saja. Di dalam pandangannya tidak ada lagi pendorong bagi dirinya untuk mempertahankan dan memuliakan hidup.
******
Minggu, 17 Mei 2009
Selasa, 12 Mei 2009
KARTUN NABI MUHAMMAD SAW
KARTUN NABI MUHAMMAD
MENDORONG SEJUMLAH WARGA DENMARK MASUK ISLAM
Ditulis di dalam koran العالم الإسلامى edisi 2033 yang terbit pada Senin, 7 Juli 2008 pada halaman 6, sebuah judul yang artinya : Gambar-bambar yang menjelekkan Rasul yang mulia menjadi penyebab sejumlah warga Denmark masuk Islam.
Wanita muslimah pertama asal Palestina duduk di parlemen Denmark menegaskan bahwa kartun-kartun yang menghina Nabi yang menimbulkan kemarahan besar di seluruh dunia itu telah menjadi penyebab bagi sejumlah warga Denmark masuk Islam.
Muslimah anggota parlemen Denmark itu juga mengatakan bahwa dirinya telah menemui para penggambar yang menghina Nabi dan akhirnya dia mengetahui bahwa mereka tidak mengerti Islam. Mereka juga tidak menggambar Rasulullah SAW, akan tetapi mereka menggambar kondisi kaum muslimin.
Asma Abdul Hamid, wanita musliman anggota parlemen Denmark itu mengatakan bahwa sebagian kaum muslimin mencampur-adukkan antara tradisi dan agama. Sehingga dia menyampaikan nasihat kepada kaum muslimin, hendaknya mereka kembali kepada aqidah dan berpegang-teguh kepada norma-norma dan ajaran Nabi SAW.
Gonjang-ganjing yang terjadi di dunia Arab dan Islam yang dipicu oleh kartun tersebut telah membuat warga Denmark bertanya-tanya tentang sebab munculnya kekacauan itu. Dalam diri mereka muncul keinginan yang kuat untuk mengetahui lebih jauh tentang pribadi Nabi SAW. Sehingga sebagian mereka ada yang mendalami pengetahuan sekitar Islam, dan ada pula yang menggali pengetahuan tentang berbagai kelebihan Rasulullah SAW. Al Hasil, banyak warga Denmark yang masuk Islam.
Sikap yang diambil Asma berkaitan dengan kartun itu adalah melaporkan kasusnya kepada polisi agar mereka menyeret para penggambar dan mengadilinya. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil. Sehingga dia memutuskan untuk menjumpai para penggambar dan mendapati mereka tidak mengerti Islam. Mereka menggambarkan Islam dari sumber kaum muslimin timur-tengah yang banyak dilanda gejolak ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Sehingga mereka mendapatkan gambaran yang paling buruk tentang Islam dan menganggap Islam sebagai sumber teror. Berangkat dari gambaran itulah mereka menggambar Nabi Muhammad SAW. Asma mengatakan, “Jadi mereka tidak menggambar Rasulullah SAW, akan tetapi kita sendiri yang menggambar beliau. Karena kita tidak bisa memberikan gambaran tentang Islam dengan akhlak dan ajarannya yang mulia sebagaimana yang ditampilkan oleh Rasulullah SAW. Dengan demikian, kita belum menunaikan kewajiban kita yang benar”.
******
MENDORONG SEJUMLAH WARGA DENMARK MASUK ISLAM
Ditulis di dalam koran العالم الإسلامى edisi 2033 yang terbit pada Senin, 7 Juli 2008 pada halaman 6, sebuah judul yang artinya : Gambar-bambar yang menjelekkan Rasul yang mulia menjadi penyebab sejumlah warga Denmark masuk Islam.
Wanita muslimah pertama asal Palestina duduk di parlemen Denmark menegaskan bahwa kartun-kartun yang menghina Nabi yang menimbulkan kemarahan besar di seluruh dunia itu telah menjadi penyebab bagi sejumlah warga Denmark masuk Islam.
Muslimah anggota parlemen Denmark itu juga mengatakan bahwa dirinya telah menemui para penggambar yang menghina Nabi dan akhirnya dia mengetahui bahwa mereka tidak mengerti Islam. Mereka juga tidak menggambar Rasulullah SAW, akan tetapi mereka menggambar kondisi kaum muslimin.
Asma Abdul Hamid, wanita musliman anggota parlemen Denmark itu mengatakan bahwa sebagian kaum muslimin mencampur-adukkan antara tradisi dan agama. Sehingga dia menyampaikan nasihat kepada kaum muslimin, hendaknya mereka kembali kepada aqidah dan berpegang-teguh kepada norma-norma dan ajaran Nabi SAW.
Gonjang-ganjing yang terjadi di dunia Arab dan Islam yang dipicu oleh kartun tersebut telah membuat warga Denmark bertanya-tanya tentang sebab munculnya kekacauan itu. Dalam diri mereka muncul keinginan yang kuat untuk mengetahui lebih jauh tentang pribadi Nabi SAW. Sehingga sebagian mereka ada yang mendalami pengetahuan sekitar Islam, dan ada pula yang menggali pengetahuan tentang berbagai kelebihan Rasulullah SAW. Al Hasil, banyak warga Denmark yang masuk Islam.
Sikap yang diambil Asma berkaitan dengan kartun itu adalah melaporkan kasusnya kepada polisi agar mereka menyeret para penggambar dan mengadilinya. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil. Sehingga dia memutuskan untuk menjumpai para penggambar dan mendapati mereka tidak mengerti Islam. Mereka menggambarkan Islam dari sumber kaum muslimin timur-tengah yang banyak dilanda gejolak ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Sehingga mereka mendapatkan gambaran yang paling buruk tentang Islam dan menganggap Islam sebagai sumber teror. Berangkat dari gambaran itulah mereka menggambar Nabi Muhammad SAW. Asma mengatakan, “Jadi mereka tidak menggambar Rasulullah SAW, akan tetapi kita sendiri yang menggambar beliau. Karena kita tidak bisa memberikan gambaran tentang Islam dengan akhlak dan ajarannya yang mulia sebagaimana yang ditampilkan oleh Rasulullah SAW. Dengan demikian, kita belum menunaikan kewajiban kita yang benar”.
******
PANDANGAN ISLAM TENTANG OLAHRAGA
Pokok-pokok penting di dalam tulisan ini kami ambil dari koranالعالم الإسلامى edisi 2033 yang terbit pada hari Senin, 7 Juli 2008 yang lalu dari halaman : 6.
Disepakati di kalangan para nara sumber medis modern bahwa latihan fisik dan olahraga, seperti : Jalan cepat, maraton, bersepeda atau berrenang selama 20 hingga 30 menit setiap hari atau minimal 3 sampai 4 kali dalam sepekan, akan memberikan manfaat berupa pencegahan sesak dada dan serangan jantung. Telah dipublikasikan oleh sebuah majalah kedokteran di Inggris sebuah tajuk di mana seorang penulis wanita mengatakan, bahwa latihan olahraga memberikan 5 manfaat bagi jantung dari beberapa aspek, yaitu :
1. Menurunkan kolesterol berbahaya yang sering menyebabkan keras dan menyempitnya saluran darah. Sementara itu, meningkatkan komulatif kolesterol bermanfaat yang menyapu lemak yang mempersempit saluran darah. Dijelaskan bahwa sesuatu yang bermanfaat untuk meningkatkan kolesterol bermanfaat adalah olahraga. Dengan meningkatnya kandungan kolesterol bermanfaat di dalam darah, maka akan sangat kecil terjadinya serangan sesak dada dan menyempitnya saluran darah.
2. Menurunkan berat badan dan memelihara keseimbangannya.
3. Olahraga membantu menurunkan tekanan darah tinggi bagi penderitanya. Olahraga yang rutin akan membantu menurunkan beberapa milimeter tekanan darah.
4. Olahraga membantu seseorang berhenti merokok. Setiap muncul keinginan untuk menghisap rokok, maka dia keluar ruangan lalu menghirup udara segar sekalipun hanya dalam beberapa menit.
5. Menurunkan kepekatan darah yang bermuara mengurangi terjadinya penyumbatan dalam saluran darah.
Rasulullah SAW banyak memerintahkan berolahraga. Beliau sendiri mampu mengalahkan para sahabat dan Aisyah RA dalam lari sprint. Beliau SAW juga memerintahkan agar belajar dan mengajarkan memanah, renang dan menunggang kuda. Dalam hadits yang diriwayatkan Umar bin Al Khaththab RA beliau SAW memerintahkan kepada kaum muslimin agar mengajari anak-anaknya renang, panahan dan menunggang kuda.
Beliau SAW di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA bersabda bahwa segala sesuatu bukan dzikir kepada Allah adalah senda-gurau dan main-main belaka yang tidak berpahala, kecuali 4 hal : Canda seorang suami dengan istrinya, melatih kuda, jalan seseorang di antara dua batas dan pengajaran tentang renang.
Di antara macam-maca olahraga : Qiyamullail, yang merupakan ibadah kepada Allah SWT dan olahraga bagi fisik. Karena menurut sabda Rasulullah SAW qiyamullail itu menjauhkan penyakit dari tubuh.
Olahraga sangat bervariasi dan sangat bermanfaat. Hal ini sudah dikenal oleh orang-orang terdahulu. Dalam Ath-Thibbun Nabawi (Kedokteran a la Nabi) Ibnul Qayyim mengatakan, “Berkuda, panahan, gulat dan lomba lari adalah olahraga untuk keseluruhan fisik dan mampu menghilangkan penyakit akut”.
Semua itu tidak perlu dilakukan secara rutin setiap hari. Sejumlah pakar mendapatkan bahwa melakukan olahraga 5 kali dalam sepekan sudah cukup untuk mewujudkan tujuan yang dimaksud, dengan syarat, dilakukan dengan rutin. Wallahu a’lam bish shawab.
*****
Disepakati di kalangan para nara sumber medis modern bahwa latihan fisik dan olahraga, seperti : Jalan cepat, maraton, bersepeda atau berrenang selama 20 hingga 30 menit setiap hari atau minimal 3 sampai 4 kali dalam sepekan, akan memberikan manfaat berupa pencegahan sesak dada dan serangan jantung. Telah dipublikasikan oleh sebuah majalah kedokteran di Inggris sebuah tajuk di mana seorang penulis wanita mengatakan, bahwa latihan olahraga memberikan 5 manfaat bagi jantung dari beberapa aspek, yaitu :
1. Menurunkan kolesterol berbahaya yang sering menyebabkan keras dan menyempitnya saluran darah. Sementara itu, meningkatkan komulatif kolesterol bermanfaat yang menyapu lemak yang mempersempit saluran darah. Dijelaskan bahwa sesuatu yang bermanfaat untuk meningkatkan kolesterol bermanfaat adalah olahraga. Dengan meningkatnya kandungan kolesterol bermanfaat di dalam darah, maka akan sangat kecil terjadinya serangan sesak dada dan menyempitnya saluran darah.
2. Menurunkan berat badan dan memelihara keseimbangannya.
3. Olahraga membantu menurunkan tekanan darah tinggi bagi penderitanya. Olahraga yang rutin akan membantu menurunkan beberapa milimeter tekanan darah.
4. Olahraga membantu seseorang berhenti merokok. Setiap muncul keinginan untuk menghisap rokok, maka dia keluar ruangan lalu menghirup udara segar sekalipun hanya dalam beberapa menit.
5. Menurunkan kepekatan darah yang bermuara mengurangi terjadinya penyumbatan dalam saluran darah.
Rasulullah SAW banyak memerintahkan berolahraga. Beliau sendiri mampu mengalahkan para sahabat dan Aisyah RA dalam lari sprint. Beliau SAW juga memerintahkan agar belajar dan mengajarkan memanah, renang dan menunggang kuda. Dalam hadits yang diriwayatkan Umar bin Al Khaththab RA beliau SAW memerintahkan kepada kaum muslimin agar mengajari anak-anaknya renang, panahan dan menunggang kuda.
Beliau SAW di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA bersabda bahwa segala sesuatu bukan dzikir kepada Allah adalah senda-gurau dan main-main belaka yang tidak berpahala, kecuali 4 hal : Canda seorang suami dengan istrinya, melatih kuda, jalan seseorang di antara dua batas dan pengajaran tentang renang.
Di antara macam-maca olahraga : Qiyamullail, yang merupakan ibadah kepada Allah SWT dan olahraga bagi fisik. Karena menurut sabda Rasulullah SAW qiyamullail itu menjauhkan penyakit dari tubuh.
Olahraga sangat bervariasi dan sangat bermanfaat. Hal ini sudah dikenal oleh orang-orang terdahulu. Dalam Ath-Thibbun Nabawi (Kedokteran a la Nabi) Ibnul Qayyim mengatakan, “Berkuda, panahan, gulat dan lomba lari adalah olahraga untuk keseluruhan fisik dan mampu menghilangkan penyakit akut”.
Semua itu tidak perlu dilakukan secara rutin setiap hari. Sejumlah pakar mendapatkan bahwa melakukan olahraga 5 kali dalam sepekan sudah cukup untuk mewujudkan tujuan yang dimaksud, dengan syarat, dilakukan dengan rutin. Wallahu a’lam bish shawab.
*****
Kamis, 07 Mei 2009
ALAT WUDHU CANGGIH
WUDHU DENGAN 1 LITER AIR
Koran Al ‘Alamul Islamiy, edisi 2060, yang terbit pada hari Senin, 23 Pebruari 2009 menulis sebuah laporan yang terjemahan judulnya : “Membantu orang melakukan wudhu’ dengan sangat mudah. Rekayasa perangkat baru untuk berwudhu’ yang mencegah pemborosan dalam pemakaian air”.
Dilaporkan bahwa sebuah perseroan yang berkedudukan di Qatar, berhasil merekayasa sebuah perangkat yang disebut “Perangkat elektronik untuk berwudhu’”. Perangkat ini mampu membantu orang berwudhu’ dalam melaksanakan semua pekerjaan dalam berwudhu’ dengan segala kemudahan. Demikian dikatakan oleh direktur eksekutif bidang produksi, Nabil Askar.
Perangkat ini telah dipamerkan dalam pameran produk-produk industri Qatar yang mendapat perhatian besar dari para pengunjung yang terkesima menyaksikannya. Dengan perangkat ini berwudhu’ tidak memakan waktu lebih dari 1,5 menit saja dengan menghabiskan air hanya 1 liter saja.
Askar mengatakan, “Menurut majalah Dustur dari Yordan, perangkat ini memiliki kelebihan menghemat air dan tidak menjadikannya tumpah. Selain mengurangi penggunaan air dari 10 liter dalam wudhu’ konvensional menjadi 1 liter dalam wudhu’ dengan perangkat elektronik ini”.
Askar menembahkan, bahwa perusahaannya sanggup mendaur ulang air yang telah digunakan untuk berwudhu’ dengan menggunakan perlengkapan khusus yang mampu memurnikan air dan memisahkannya dari berbagai kotoran. Dengan demikian, air tersebut layak digunakan kembali untuk kebutuhan manusia”. Dia juga menambahkan bahwa air yang hilang karena proses ini tidak lebih dari 5 %. Seusai seseorang berwudhu’, maka perangkat ini menjemur air yang meningkatkan kebersihan dan kesehatannya.
Secara rinci cara kerja perangkat ini, orang yang berwudhu’ meletakkan kedua tangan dan kakinya pada tempat yang disediakan khusus agar terbasuh hingga tiga kali dengan sempurna sebagaimana yang diharuskan dalam berwudhu’. Kemudian secara otomatis keduanya dikeringkan. Mula-mula perangkat mengirimkan air menuju kepada kedua tangan dengan menggosoknya dan menyela-nyela jarinya sebanyak tiga kali lalu mengeringkannya. Setelah itu, dengan meletakkan muka pada tempat khusus, sempurnalah proses berkumur-kumur dan membersihkan bagian dalam hidung sebanyak tiga kali. Demikian, hingga selesailah semua proses berwudhu’.
Askar menegaskan bahwa perangkat elektronik untuk berwudhu’ ini aman, karena hanya menggunakan daya listrik 24 volt yang tidak menyakitkan orang yang menggunakannya. Dia menambahkan bahwa dengan menggunakan perangkat ini mengurangi kepadatan antrean orang untuk berwudhu’, karena perangkat ini sangat sesuaidigunakan di masjid-masjid dan tempat-tempat umum. Perangkat ini dibuat dari bahan stainless still anti karat, dan karena itu pula memudahkan perakitan dan pemeliharaannya. Alat ini juga memberikan kemudahan kepada para lansia, orang-orang yang berkebutuhan khusus dan anak-anak.
Sedangkan tinjauan syar’i berkenaan dengan perangkat ini, askar menegaskan bahwa produknya telah mendapatkan rekomendasi dari kementerian wakaf dan urusan agama Islam di Qatar, bahkan diproduksi dengan bekerjasama dengannya.
******
Koran Al ‘Alamul Islamiy, edisi 2060, yang terbit pada hari Senin, 23 Pebruari 2009 menulis sebuah laporan yang terjemahan judulnya : “Membantu orang melakukan wudhu’ dengan sangat mudah. Rekayasa perangkat baru untuk berwudhu’ yang mencegah pemborosan dalam pemakaian air”.
Dilaporkan bahwa sebuah perseroan yang berkedudukan di Qatar, berhasil merekayasa sebuah perangkat yang disebut “Perangkat elektronik untuk berwudhu’”. Perangkat ini mampu membantu orang berwudhu’ dalam melaksanakan semua pekerjaan dalam berwudhu’ dengan segala kemudahan. Demikian dikatakan oleh direktur eksekutif bidang produksi, Nabil Askar.
Perangkat ini telah dipamerkan dalam pameran produk-produk industri Qatar yang mendapat perhatian besar dari para pengunjung yang terkesima menyaksikannya. Dengan perangkat ini berwudhu’ tidak memakan waktu lebih dari 1,5 menit saja dengan menghabiskan air hanya 1 liter saja.
Askar mengatakan, “Menurut majalah Dustur dari Yordan, perangkat ini memiliki kelebihan menghemat air dan tidak menjadikannya tumpah. Selain mengurangi penggunaan air dari 10 liter dalam wudhu’ konvensional menjadi 1 liter dalam wudhu’ dengan perangkat elektronik ini”.
Askar menembahkan, bahwa perusahaannya sanggup mendaur ulang air yang telah digunakan untuk berwudhu’ dengan menggunakan perlengkapan khusus yang mampu memurnikan air dan memisahkannya dari berbagai kotoran. Dengan demikian, air tersebut layak digunakan kembali untuk kebutuhan manusia”. Dia juga menambahkan bahwa air yang hilang karena proses ini tidak lebih dari 5 %. Seusai seseorang berwudhu’, maka perangkat ini menjemur air yang meningkatkan kebersihan dan kesehatannya.
Secara rinci cara kerja perangkat ini, orang yang berwudhu’ meletakkan kedua tangan dan kakinya pada tempat yang disediakan khusus agar terbasuh hingga tiga kali dengan sempurna sebagaimana yang diharuskan dalam berwudhu’. Kemudian secara otomatis keduanya dikeringkan. Mula-mula perangkat mengirimkan air menuju kepada kedua tangan dengan menggosoknya dan menyela-nyela jarinya sebanyak tiga kali lalu mengeringkannya. Setelah itu, dengan meletakkan muka pada tempat khusus, sempurnalah proses berkumur-kumur dan membersihkan bagian dalam hidung sebanyak tiga kali. Demikian, hingga selesailah semua proses berwudhu’.
Askar menegaskan bahwa perangkat elektronik untuk berwudhu’ ini aman, karena hanya menggunakan daya listrik 24 volt yang tidak menyakitkan orang yang menggunakannya. Dia menambahkan bahwa dengan menggunakan perangkat ini mengurangi kepadatan antrean orang untuk berwudhu’, karena perangkat ini sangat sesuaidigunakan di masjid-masjid dan tempat-tempat umum. Perangkat ini dibuat dari bahan stainless still anti karat, dan karena itu pula memudahkan perakitan dan pemeliharaannya. Alat ini juga memberikan kemudahan kepada para lansia, orang-orang yang berkebutuhan khusus dan anak-anak.
Sedangkan tinjauan syar’i berkenaan dengan perangkat ini, askar menegaskan bahwa produknya telah mendapatkan rekomendasi dari kementerian wakaf dan urusan agama Islam di Qatar, bahkan diproduksi dengan bekerjasama dengannya.
******
Minggu, 03 Mei 2009
URGENSI BAHASA ARAB
URGENSI BELAJAR BAHASA ARAB [1]
PENGANTAR :
Zoon politicon atau اَلإِنْسَانُ مَدَنِىٌّ بِالطَّبْعِ adalah dua ungkapan yang berbeda bahasa namun maknanya sama, yaitu manusia adalah makhluk sosial yang konotasinya manusia tidak bisa hidup seorang diri. Ia butuh berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupannya. Mulai dari dalam media interaksi terkecil (keluarga) hingga media interaksi terbesar (global).
Alat yang paling dominan dalam berinteraksi adalah bahasa. Dengan bahasa tujuan interaksi akan segera dirasakan. Dengan bahasa proses interaksi menjadi jauh dari kusulitan dan berbagai ganjalan. Tanpa bahasa maka yang terasa adalah sebaliknya, sekali pun dalam interaski internal suatu kelompok yang diikat oleh suatu ikatan yang telah disepakati.
Ikatan yang mengikat dan menyatukan anggota suatu kelompok sehingga kelompok itu karena ikatannya menjadi definitif sebagai kelompok yang independen, mutlak sangat penting. Contoh kelompok adalah kelompok kaum muslimin yang diikat oleh kesamaan aqidah.
Kelompok kaum muslimin adalah kelompok yang bercita-cita mendapatkan kebahagiaan di dunia ini bahkan di akhirat kelak. Mereka diikat oleh pokok-pokok aqidah dan berbagai ibadah. Semua pokok dan pola itu diwadahi dalam referensi yang sangat spesifik, yaitu Kitabullah Al-Qur'an Al-Karim dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hanya dengan kembali dan merujuk kepadanya cita-cita kelompok kaum muslimin dijamin akan tercapai. Oleh sebab itu dengan mengikuti hawa nafsu dalam kehidupan ini dengan tujuan yang sama dengan tujuan kaum muslimin, pada hakekatnya orang itu hanya akan tertipu dan kehabisan waktu sebelum sampai kepada apa yang dituju.
Sebuah pertanyaan studi yang sangat penting adalah : Jika Bahasa yang dipakai oleh referensi itu tidak dipahami oleh kaum muslimin, sampaikah dia kepada tujuannya tersebut?
BAHASA ARAB :
Bahasa Arab sudah ada sejak sebelum Islam datang. Bahasa Arab memiliki tingkat kebakuan yang tinggi sehingga artinya sangat focus kepada tujuan ungkapannya. Tidak banyak menimbulkan interpretasi yang berbeda –beda, apalagi saling bertabrakan.
Bahasa Arab telah menjadi standar penilaian kemajuan seseorang atau kelompok. Syair-syair dalam sastra bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat penting. Di zaman pra-Islam (Jahiliah) orang pergi ke pasar bukan untuk berbelanja saja layaknya orang di zaman sekarang, tetapi untuk mencari popularitas dengan berunjuk kebolehan membawakan karya seni dalam bentuk karya sastra bahasa Arab. Membaca syair-syair di pasar-pasar adalah sesuatu yang membudaya ketika itu. Mereka membaca syair secara bersamaan, dan pembaca syair dengan pendengar terbanyak adalah orang paling mulia menurut mereka. Abu Al-Atahiyah adalah salah satu sosok orang terkenal di pasar-pasar dan masyarakat Arab pra-Islam. Ukad dan Dzu Al-Majaz adalah contoh dua buah pasar yang sering dijadikan sebagai ajang berlomba membaca syair di zaman pra-Islam.
Islam dihadirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk dijadikan sarana meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Dengan turunnya Islam, maka bahasa Arab dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala karena dipilih oleh-Nya Subhanahu wa Ta'ala sebagai bahasa Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sejalan dengan itu maka bahasa Arab terus berkembang dan merambah ke seluruh dunia. Hingga kini bahasa Arab telah menjadi bahasa internasional dengan dijadikannya sebagai bahasa resmi PBB.
URGENSI BELAJAR BAHASA ARAB :
Mari kita cermati tulisan Abd Al-Wahhab Khalaf berikut ini :
هذه القواعد التشريعية استمدها علماء أصول الفقه الإسلامى من استقراء الأحكام الشرعية ، ومن استقراء عللها وحكمها التشريعية . ومن النصوص التى قررت مبادئ تشريعية عامة وأصولا تشريعية كلية ، وكما تجب مراعاتها فى استنباط الأحكام من النصوص تجب مراعاتها فى استنباط الأحكام فيما لا نص فيه ليكون التشريع محققا ما قصد به موصلا إلى تحقيق مصالح الناس والعدل بينهم [2]
"Kaidah-kaidah penetapan hukum syari'at ini disimpulkan oleh para ulama ushul Al-Fiqh Islam dengan cara menganalisa hukum-hukum syari'at dan dengan cara menganalisa ilat-ilat dan hukum-hukum penetapan syari'at dari teks-teks yang menetapkan dasar-dasar penetapan syari'at yang bersifat umum dan pokok-pokok penetapan syari'at yang bersifat global. Sebagaimana wajibnya memperhatikan hukum-hukum dan alasan-alasannya dari nash-nash yang ada, wajib juga memperhatikan hal yang sama pada perkara-perkara yang tidak ada nash yang menjelaskannya. Agar penetapan syari'at itu mampu mewujudkan apa-apa yang menjadi tujuannya dan menyampaikan kepada realisasi berbagai kemaslahatan manusia dan keadilan di antara mereka".
Dari ungkapan di atas jelas bahwa manusia hidup harus penuh dengan berbagai kemaslahatan dan harus dengan keadilah. Tentu kemaslahatan dan keadilan itu adalah dua hal paling penting dalam mewujudkan kebahagiaan manusia di dunia dan di kahirat. Keduanya hanya akan terwujud dengan mempola kehidupan agar sejalan dengan hukum-hukum syari'at yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an dan di dalam As-Sunnah. Dari kedua sumber itulah para ulama ilmu Ushul Fiqih menarik berbagai kaidah untuk pola penetapan syari'at.
Lebih dari itu, kaum muslimin juga dituntut menarik kesimpulan syari'at untuk berbagai kasus dan perkara yang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Untuk itu, mereka dituntut memiliki kemampuan melakukan apa yang dinamakan qiyas untuk menarik hukum syari'at untuk kasus atau perkara yang tidak ada nashnya di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dengan dasar-dasar mengetahui hukum perkara yang sejenis yang ada nashnya dalam Al-Qur'an atau As-Sunnah. Ukuran "sejenis" adalah kesamaan alasan (ilat) penetapan hukumnya.
Ketika semua nash dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dipaparkan dengan basaha Arab, maka bagaimana menurut anda penguasaan bahasa Arab itu ? Bagaimana mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat tanpa menguasai bahasa Arab ?
Mari kita perhatikan hadits di bawah ini :
فقد روى الحافظ بن عساكر بسنده عن مالك قول النبى صلى الله عليه وسلم : يا أيها الناس ، إن الرب واحد ، والأب واحد ، وإن الدين واحد ، وليست العربية بأحدكم من أب ولا أم ، وإنما هى اللسان ، فمن تكلم بالعربية فهو عربى [3]
" Al-Hafidz Ibn Asakir dengan sanadnya telah meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Malik, yang artinya : Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb itu satu, bapak itu satu, dan sesungguhnya agama itu satu. Bukanlah kearaban pada salah seorang dari kalian itu dari ayah dan bukan pula dari ibu, akan tetapi kearaban itu adalah dari lidah (bahasa). Maka barangsiapa berbicara dengan bahasa Arab dia adalah seorang Arab".
Pokok pikiran dalam hadits di atas adalah bahwa "kesatuan" itu sangat penting. Kaum muslimin diikat oleh kesatuan Rabb (Allah), kesatuan Bapak (Adam) dan kesatuan agama (Islam). Ketiga macam pengikat kaum muslimin itu tidak terbatas mengikat bangsa Arab secara genealogis dan biologis, akan tetapi mengikat kaum muslimin menjadi bangsa Arab dengan kesamaan bahasa.
Dengan demikian, bahasa Arab memasukkan semua penuturnya ke dalam komunitas bangsa Arab, dan semua bangsa Arab adalah kaum muslimin yang satu Rabb, satu Bapak dan satu agama.
KESIMPULAN :
1- Bahasa Arab sangat penting karena menjadi bahasa resmi Islam. Orang yang mau memahami Islam dari sumbernya ia harus menguasai bahasa Arab.
2- Bangsa Arab tidak hanya terdiri dari orang-orang Arab, akan tetapi semua orang yang berbahasa Arab.
3- Bahasa Arab dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi bahasa Islam. Bahasa Arab sudah ada sejak zaman pra-Islam (Jahiliah) dan telah menjadi tolok-ukur kemajuan seseorang.
PENUTUP :
Demikian tulisan ini saya buat, semoga menjadi pemicu hasrat bagi peminat bahasa Arab untuk mendalaminya. Semoga ibadah bejalar Bahasa Arab mendatangkan manfaat dalam kehidupan dan pahala yang besar dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Amin.
******
[1] Disampaikan pada liqa usrar 14 pada tanggal 18 Pebruari 2006 di DPD PKS oleh Drs. Asmuni.
[2] Ilmu Ushul Al-Fiqhi, Abd Al-Wahhab Khalaf, Daar Al-Qalam, Kairo, cetakan : 12, th. 1398 H/1978M, hal. 197.
[3] Dinukil dari buku Majmu'atu Rasaili Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna, halaman : 130.
PENGANTAR :
Zoon politicon atau اَلإِنْسَانُ مَدَنِىٌّ بِالطَّبْعِ adalah dua ungkapan yang berbeda bahasa namun maknanya sama, yaitu manusia adalah makhluk sosial yang konotasinya manusia tidak bisa hidup seorang diri. Ia butuh berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupannya. Mulai dari dalam media interaksi terkecil (keluarga) hingga media interaksi terbesar (global).
Alat yang paling dominan dalam berinteraksi adalah bahasa. Dengan bahasa tujuan interaksi akan segera dirasakan. Dengan bahasa proses interaksi menjadi jauh dari kusulitan dan berbagai ganjalan. Tanpa bahasa maka yang terasa adalah sebaliknya, sekali pun dalam interaski internal suatu kelompok yang diikat oleh suatu ikatan yang telah disepakati.
Ikatan yang mengikat dan menyatukan anggota suatu kelompok sehingga kelompok itu karena ikatannya menjadi definitif sebagai kelompok yang independen, mutlak sangat penting. Contoh kelompok adalah kelompok kaum muslimin yang diikat oleh kesamaan aqidah.
Kelompok kaum muslimin adalah kelompok yang bercita-cita mendapatkan kebahagiaan di dunia ini bahkan di akhirat kelak. Mereka diikat oleh pokok-pokok aqidah dan berbagai ibadah. Semua pokok dan pola itu diwadahi dalam referensi yang sangat spesifik, yaitu Kitabullah Al-Qur'an Al-Karim dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hanya dengan kembali dan merujuk kepadanya cita-cita kelompok kaum muslimin dijamin akan tercapai. Oleh sebab itu dengan mengikuti hawa nafsu dalam kehidupan ini dengan tujuan yang sama dengan tujuan kaum muslimin, pada hakekatnya orang itu hanya akan tertipu dan kehabisan waktu sebelum sampai kepada apa yang dituju.
Sebuah pertanyaan studi yang sangat penting adalah : Jika Bahasa yang dipakai oleh referensi itu tidak dipahami oleh kaum muslimin, sampaikah dia kepada tujuannya tersebut?
BAHASA ARAB :
Bahasa Arab sudah ada sejak sebelum Islam datang. Bahasa Arab memiliki tingkat kebakuan yang tinggi sehingga artinya sangat focus kepada tujuan ungkapannya. Tidak banyak menimbulkan interpretasi yang berbeda –beda, apalagi saling bertabrakan.
Bahasa Arab telah menjadi standar penilaian kemajuan seseorang atau kelompok. Syair-syair dalam sastra bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat penting. Di zaman pra-Islam (Jahiliah) orang pergi ke pasar bukan untuk berbelanja saja layaknya orang di zaman sekarang, tetapi untuk mencari popularitas dengan berunjuk kebolehan membawakan karya seni dalam bentuk karya sastra bahasa Arab. Membaca syair-syair di pasar-pasar adalah sesuatu yang membudaya ketika itu. Mereka membaca syair secara bersamaan, dan pembaca syair dengan pendengar terbanyak adalah orang paling mulia menurut mereka. Abu Al-Atahiyah adalah salah satu sosok orang terkenal di pasar-pasar dan masyarakat Arab pra-Islam. Ukad dan Dzu Al-Majaz adalah contoh dua buah pasar yang sering dijadikan sebagai ajang berlomba membaca syair di zaman pra-Islam.
Islam dihadirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk dijadikan sarana meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Dengan turunnya Islam, maka bahasa Arab dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala karena dipilih oleh-Nya Subhanahu wa Ta'ala sebagai bahasa Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sejalan dengan itu maka bahasa Arab terus berkembang dan merambah ke seluruh dunia. Hingga kini bahasa Arab telah menjadi bahasa internasional dengan dijadikannya sebagai bahasa resmi PBB.
URGENSI BELAJAR BAHASA ARAB :
Mari kita cermati tulisan Abd Al-Wahhab Khalaf berikut ini :
هذه القواعد التشريعية استمدها علماء أصول الفقه الإسلامى من استقراء الأحكام الشرعية ، ومن استقراء عللها وحكمها التشريعية . ومن النصوص التى قررت مبادئ تشريعية عامة وأصولا تشريعية كلية ، وكما تجب مراعاتها فى استنباط الأحكام من النصوص تجب مراعاتها فى استنباط الأحكام فيما لا نص فيه ليكون التشريع محققا ما قصد به موصلا إلى تحقيق مصالح الناس والعدل بينهم [2]
"Kaidah-kaidah penetapan hukum syari'at ini disimpulkan oleh para ulama ushul Al-Fiqh Islam dengan cara menganalisa hukum-hukum syari'at dan dengan cara menganalisa ilat-ilat dan hukum-hukum penetapan syari'at dari teks-teks yang menetapkan dasar-dasar penetapan syari'at yang bersifat umum dan pokok-pokok penetapan syari'at yang bersifat global. Sebagaimana wajibnya memperhatikan hukum-hukum dan alasan-alasannya dari nash-nash yang ada, wajib juga memperhatikan hal yang sama pada perkara-perkara yang tidak ada nash yang menjelaskannya. Agar penetapan syari'at itu mampu mewujudkan apa-apa yang menjadi tujuannya dan menyampaikan kepada realisasi berbagai kemaslahatan manusia dan keadilan di antara mereka".
Dari ungkapan di atas jelas bahwa manusia hidup harus penuh dengan berbagai kemaslahatan dan harus dengan keadilah. Tentu kemaslahatan dan keadilan itu adalah dua hal paling penting dalam mewujudkan kebahagiaan manusia di dunia dan di kahirat. Keduanya hanya akan terwujud dengan mempola kehidupan agar sejalan dengan hukum-hukum syari'at yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an dan di dalam As-Sunnah. Dari kedua sumber itulah para ulama ilmu Ushul Fiqih menarik berbagai kaidah untuk pola penetapan syari'at.
Lebih dari itu, kaum muslimin juga dituntut menarik kesimpulan syari'at untuk berbagai kasus dan perkara yang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Untuk itu, mereka dituntut memiliki kemampuan melakukan apa yang dinamakan qiyas untuk menarik hukum syari'at untuk kasus atau perkara yang tidak ada nashnya di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dengan dasar-dasar mengetahui hukum perkara yang sejenis yang ada nashnya dalam Al-Qur'an atau As-Sunnah. Ukuran "sejenis" adalah kesamaan alasan (ilat) penetapan hukumnya.
Ketika semua nash dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dipaparkan dengan basaha Arab, maka bagaimana menurut anda penguasaan bahasa Arab itu ? Bagaimana mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat tanpa menguasai bahasa Arab ?
Mari kita perhatikan hadits di bawah ini :
فقد روى الحافظ بن عساكر بسنده عن مالك قول النبى صلى الله عليه وسلم : يا أيها الناس ، إن الرب واحد ، والأب واحد ، وإن الدين واحد ، وليست العربية بأحدكم من أب ولا أم ، وإنما هى اللسان ، فمن تكلم بالعربية فهو عربى [3]
" Al-Hafidz Ibn Asakir dengan sanadnya telah meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Malik, yang artinya : Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb itu satu, bapak itu satu, dan sesungguhnya agama itu satu. Bukanlah kearaban pada salah seorang dari kalian itu dari ayah dan bukan pula dari ibu, akan tetapi kearaban itu adalah dari lidah (bahasa). Maka barangsiapa berbicara dengan bahasa Arab dia adalah seorang Arab".
Pokok pikiran dalam hadits di atas adalah bahwa "kesatuan" itu sangat penting. Kaum muslimin diikat oleh kesatuan Rabb (Allah), kesatuan Bapak (Adam) dan kesatuan agama (Islam). Ketiga macam pengikat kaum muslimin itu tidak terbatas mengikat bangsa Arab secara genealogis dan biologis, akan tetapi mengikat kaum muslimin menjadi bangsa Arab dengan kesamaan bahasa.
Dengan demikian, bahasa Arab memasukkan semua penuturnya ke dalam komunitas bangsa Arab, dan semua bangsa Arab adalah kaum muslimin yang satu Rabb, satu Bapak dan satu agama.
KESIMPULAN :
1- Bahasa Arab sangat penting karena menjadi bahasa resmi Islam. Orang yang mau memahami Islam dari sumbernya ia harus menguasai bahasa Arab.
2- Bangsa Arab tidak hanya terdiri dari orang-orang Arab, akan tetapi semua orang yang berbahasa Arab.
3- Bahasa Arab dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi bahasa Islam. Bahasa Arab sudah ada sejak zaman pra-Islam (Jahiliah) dan telah menjadi tolok-ukur kemajuan seseorang.
PENUTUP :
Demikian tulisan ini saya buat, semoga menjadi pemicu hasrat bagi peminat bahasa Arab untuk mendalaminya. Semoga ibadah bejalar Bahasa Arab mendatangkan manfaat dalam kehidupan dan pahala yang besar dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Amin.
******
[1] Disampaikan pada liqa usrar 14 pada tanggal 18 Pebruari 2006 di DPD PKS oleh Drs. Asmuni.
[2] Ilmu Ushul Al-Fiqhi, Abd Al-Wahhab Khalaf, Daar Al-Qalam, Kairo, cetakan : 12, th. 1398 H/1978M, hal. 197.
[3] Dinukil dari buku Majmu'atu Rasaili Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna, halaman : 130.
HAKEKAT KUAT
HAKEKAT KUAT
Kuat yang hakiki, yang diridhai oleh Islam, dan sangat dianjurkan adalah kuat yang berhubungan dengan mental seseorang, bukan hanya kuat dengan tinjauan fisik. Dengan demikian, maka setiap muslim dituntut kuat mental dan fisik, sehingga mudah melakukan segala macam tugas dan kewajiban. Ibadah, semuanya menjadi ringan dan sangat nikmat.
Orang menang dalam pertandingan gulat, tinju, lari sprint, maraton dan lain sebagainya, baru kuat fisik, dan tidak akan membuahkan manfaat tanpa kuat dalam mental kepribadian.
Jika orang hanya kuat secara fisik, tetapi tidak memiliki kekuatan di bidang mental, akan sulit menjadi manusia baik-baik. Dia dengan kekuatan fisiknya, akan senantiasa terdorong melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang menurut pemikirannya menguntungkan dirinya.
Sungguh, orang demikian adalah orang bingung yang tidak menyadari kebingungannya. Dia berolahraga main bola sampai adzan maghrib, dia menjadi sehat, tetapi kesehatannya tidak digunakan untuk mendapatkan manfaat dari Allah yang sebanyak-banyaknya. Bahkan, lalai kepada Allah karena menikmati kesenangan main bola dengan kawan-kawannya hingga adzan maghrib memanggilnya, namun dia tidak paham panggilan yang mulia itu. Na’udzu billah min dzalik.
Simak hadits berikut dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :
وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Bukanlah kuat itu diukur dengan bertanding gulat, akan tetapi kuat kemampuan mengendalikan diri ketika sedang marah'". (Muttafaq alaih).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mengukur kekuatan seseorang dengan menguji-cobanya bertanding gulat, tetapi lebih memperhatikan kemampuan seseorang mengendalikan diri ketika sedang dilanda kemurkaan dan amarah.
Ketika seseorang kuat menahan diri dengan tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika sedang marah, tidak memukul, tidak menyakiti dengan kata-kata atau dengan anggota badan, tidak mengancam, tidak mencaci, tidak memaki, maka dia benar-benar orang kuat.
Jadi yang ideal : Kuat fisik dan kuat mental. Kuat fisik untuk memudahkan melakukan berbagai macam ketaatan dan meninggalkan berbagai macam kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.
Semoga kita bisa mengoptimalkan keduanya. Wallahu a’lam bish-shawab.
*****
Kuat yang hakiki, yang diridhai oleh Islam, dan sangat dianjurkan adalah kuat yang berhubungan dengan mental seseorang, bukan hanya kuat dengan tinjauan fisik. Dengan demikian, maka setiap muslim dituntut kuat mental dan fisik, sehingga mudah melakukan segala macam tugas dan kewajiban. Ibadah, semuanya menjadi ringan dan sangat nikmat.
Orang menang dalam pertandingan gulat, tinju, lari sprint, maraton dan lain sebagainya, baru kuat fisik, dan tidak akan membuahkan manfaat tanpa kuat dalam mental kepribadian.
Jika orang hanya kuat secara fisik, tetapi tidak memiliki kekuatan di bidang mental, akan sulit menjadi manusia baik-baik. Dia dengan kekuatan fisiknya, akan senantiasa terdorong melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang menurut pemikirannya menguntungkan dirinya.
Sungguh, orang demikian adalah orang bingung yang tidak menyadari kebingungannya. Dia berolahraga main bola sampai adzan maghrib, dia menjadi sehat, tetapi kesehatannya tidak digunakan untuk mendapatkan manfaat dari Allah yang sebanyak-banyaknya. Bahkan, lalai kepada Allah karena menikmati kesenangan main bola dengan kawan-kawannya hingga adzan maghrib memanggilnya, namun dia tidak paham panggilan yang mulia itu. Na’udzu billah min dzalik.
Simak hadits berikut dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :
وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Bukanlah kuat itu diukur dengan bertanding gulat, akan tetapi kuat kemampuan mengendalikan diri ketika sedang marah'". (Muttafaq alaih).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mengukur kekuatan seseorang dengan menguji-cobanya bertanding gulat, tetapi lebih memperhatikan kemampuan seseorang mengendalikan diri ketika sedang dilanda kemurkaan dan amarah.
Ketika seseorang kuat menahan diri dengan tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika sedang marah, tidak memukul, tidak menyakiti dengan kata-kata atau dengan anggota badan, tidak mengancam, tidak mencaci, tidak memaki, maka dia benar-benar orang kuat.
Jadi yang ideal : Kuat fisik dan kuat mental. Kuat fisik untuk memudahkan melakukan berbagai macam ketaatan dan meninggalkan berbagai macam kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.
Semoga kita bisa mengoptimalkan keduanya. Wallahu a’lam bish-shawab.
*****
Kamis, 30 April 2009
DR. AIDH AL QARNI BICARA TTG EKONOMI ISLAM
KEHEBATAN SISTEM EKONOMI ISLAM
Pada hari Senin, 17 Nopember 2008, dalam edisinya yang ke 2048, tabloid Al Alamul Islamiy (العالم الإسلامى) memuat tulisan Dr. Aidhul Qarni pada halaman terakhir yang berjudul : جربوا الاقتصاد الإسلامى (Cobalah ekonomi Islam). Di antara pokok-pokok penting yang beliau tulis adalah :
1. Sistem ekonomi komunis telah menemui kegagalannya.
2. Di susul oleh sistem ekonomi kapitalis yang telah habis masa kejayaannya.
3. Tinggal sistem ekonomi Islam yang masih tangguh dan berjaya.
Dengan fakta sejarah baru yang demikian, maka tantangan Allah SWT di dalam surah Al Maidah ayat : 50
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (المائدة : 50) .
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?
mulai dilirik dan diperhatikan. Banyak orang mulai mengkaji Islam, terutama sejak kejadian WTC di Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Semangat mereka mengkaji Islam berangkat penasaran karena sikap dunia yang dikomandani Amerika Serikat memusuhi Islam. Ada apa dengan Islam ? Padahal kejadian WTC tidak pernah terbutkti bahwa langan dari Islam yang menjadi dalangnya. Mereka lebih semangat lagi mengkaji Islam setelah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh sistem komunis dan sistem kapitalis yang keduanya diusung oleh negara-negara adidaya. Ternyata akhirnya tidak berdaya. Kegagalan mereka itu susul-menyusul yang jaraknya tidak sampai belasan tahun.
Dr. Aidhul Qarni membedakan sebagian hal dalam sistem Islam dan dalam sistem sosialis dan kapitalis, yang keduanya disebut dengan syari’at buatan manusia.
Dalam hal kepemilikan, syari’at buatan manusia membolehkan penggunaan segala macam cara. Sehingga kepemilikan tidak ada batas dan tidak ada aturan yang mengendalikannya dan mendukung pemerataan. Sementara Islam mengharamkan jalan kepemilikan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Maka Islam mengharamkan riba, penipuan, perampokan, perampasan, pencurian, korupsi, kecurangan, suap dan lain sebagainya. Islam juga menjamin kecukupan bagi orang-orang fakir dari jalur zakat yang besar bagiannya 2,5 %. Islam juga menganjurkan infaq dan shadaqah untuk kemanusiaan dan kebaikan.
Beliau juga membedakan antara sistem Islam dan sistem buatan manusia. Beliau mengatakan, “Syari’at Allah itu dari atas, sedangkan syari’at manusia dari bawah. Jalan Allah itu dari Yang Maha Luhur, sedangkan jalan buatan manusia dari kehinaan. Risalah Islam itu dari Rabb alam semesta, sedangkan risalah buatan manusia itu dari tanah”.
Dunia menghadapi kehancuran perekonomian, dan tidak ada solusinya selain Islam. Bahkan kehancuran akhlak dan lembaga keluarga lebih dahulu binasa daripada perekonomian. Karena itu dunia Barat mulai sadar dengan keadaan dan apa yang sedang terjadi.
Beliau juga menulis, “Hingga banyak dari kalangan pembuat undang-undang di Barat menyerukan ajakan untuk mengambil manfaat dari hukum-hukum Islam berkenaan dengan hukuman, hukum-hukum harta dan tatanan yang berkenaan dengan keluarga dan wanita. Maka, mana para ulama kita yang bertanggungjawab untuk menyajikan risalah Islam yang jelas dan dakwah yang benar dan bisa diterima, yang menjelaskan keluwesan dan kemudahan dalam Islam. Mereka, hingga kini hanya berdebat mengenai melihat bulan sabit Ramadhan dan Syawwal, apakah dengan dasar hisab atau rukyah. Ironisnya, perselisihan itu telah berlangsung di kalangan mereka selama bertahun-tahun”.
Beliau juga menyeru, “Wahai orang-orang alim. Kita memiliki jalan pemecahan masalah yang datang dari Rabb dari langit. Telah datang kepada kita dengan sanad yang bersambung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dari Jibril, dari Rabb alam semesta”. Wallahu a’lam bish-shawab.
*****
Pada hari Senin, 17 Nopember 2008, dalam edisinya yang ke 2048, tabloid Al Alamul Islamiy (العالم الإسلامى) memuat tulisan Dr. Aidhul Qarni pada halaman terakhir yang berjudul : جربوا الاقتصاد الإسلامى (Cobalah ekonomi Islam). Di antara pokok-pokok penting yang beliau tulis adalah :
1. Sistem ekonomi komunis telah menemui kegagalannya.
2. Di susul oleh sistem ekonomi kapitalis yang telah habis masa kejayaannya.
3. Tinggal sistem ekonomi Islam yang masih tangguh dan berjaya.
Dengan fakta sejarah baru yang demikian, maka tantangan Allah SWT di dalam surah Al Maidah ayat : 50
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (المائدة : 50) .
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?
mulai dilirik dan diperhatikan. Banyak orang mulai mengkaji Islam, terutama sejak kejadian WTC di Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Semangat mereka mengkaji Islam berangkat penasaran karena sikap dunia yang dikomandani Amerika Serikat memusuhi Islam. Ada apa dengan Islam ? Padahal kejadian WTC tidak pernah terbutkti bahwa langan dari Islam yang menjadi dalangnya. Mereka lebih semangat lagi mengkaji Islam setelah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh sistem komunis dan sistem kapitalis yang keduanya diusung oleh negara-negara adidaya. Ternyata akhirnya tidak berdaya. Kegagalan mereka itu susul-menyusul yang jaraknya tidak sampai belasan tahun.
Dr. Aidhul Qarni membedakan sebagian hal dalam sistem Islam dan dalam sistem sosialis dan kapitalis, yang keduanya disebut dengan syari’at buatan manusia.
Dalam hal kepemilikan, syari’at buatan manusia membolehkan penggunaan segala macam cara. Sehingga kepemilikan tidak ada batas dan tidak ada aturan yang mengendalikannya dan mendukung pemerataan. Sementara Islam mengharamkan jalan kepemilikan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Maka Islam mengharamkan riba, penipuan, perampokan, perampasan, pencurian, korupsi, kecurangan, suap dan lain sebagainya. Islam juga menjamin kecukupan bagi orang-orang fakir dari jalur zakat yang besar bagiannya 2,5 %. Islam juga menganjurkan infaq dan shadaqah untuk kemanusiaan dan kebaikan.
Beliau juga membedakan antara sistem Islam dan sistem buatan manusia. Beliau mengatakan, “Syari’at Allah itu dari atas, sedangkan syari’at manusia dari bawah. Jalan Allah itu dari Yang Maha Luhur, sedangkan jalan buatan manusia dari kehinaan. Risalah Islam itu dari Rabb alam semesta, sedangkan risalah buatan manusia itu dari tanah”.
Dunia menghadapi kehancuran perekonomian, dan tidak ada solusinya selain Islam. Bahkan kehancuran akhlak dan lembaga keluarga lebih dahulu binasa daripada perekonomian. Karena itu dunia Barat mulai sadar dengan keadaan dan apa yang sedang terjadi.
Beliau juga menulis, “Hingga banyak dari kalangan pembuat undang-undang di Barat menyerukan ajakan untuk mengambil manfaat dari hukum-hukum Islam berkenaan dengan hukuman, hukum-hukum harta dan tatanan yang berkenaan dengan keluarga dan wanita. Maka, mana para ulama kita yang bertanggungjawab untuk menyajikan risalah Islam yang jelas dan dakwah yang benar dan bisa diterima, yang menjelaskan keluwesan dan kemudahan dalam Islam. Mereka, hingga kini hanya berdebat mengenai melihat bulan sabit Ramadhan dan Syawwal, apakah dengan dasar hisab atau rukyah. Ironisnya, perselisihan itu telah berlangsung di kalangan mereka selama bertahun-tahun”.
Beliau juga menyeru, “Wahai orang-orang alim. Kita memiliki jalan pemecahan masalah yang datang dari Rabb dari langit. Telah datang kepada kita dengan sanad yang bersambung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dari Jibril, dari Rabb alam semesta”. Wallahu a’lam bish-shawab.
*****
Langganan:
Postingan (Atom)